Selasa, 12 Agustus 2008

Implementasi Isra' Mi'raj


Implementasi Isra' Mi'raj

A Slamet Ibnu Syam
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Umm Durman Cabang Damaskus, Mantan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus-Suriah


Secara normatif di balik peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri Rasulullah SAW terdapat berbagai hikmah dan pelajaran yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Di antara peristiwa-peristiwa tersebut, ada yang dapat dicerna oleh akal manusia dan ada pula yang tak dapat dijangkau olehnya.

Tentu hal-hal yang tak terjangkau itu disebabkan oleh keterbatasan yang dimiliki oleh akal manusia itu. Di antara peristiwa yang sulit dicerna dan dijangkau oleh akal manusia secara umum adalah peristiwa Isra Mi'raj Rasulullah SAW.

Isra Mi'raj adalah perjalanan yang dilakukan Rasulullah dari Masjidil Haram di Makkah menuju ke Masjid al-Aqsa di Palestina (Isra), lalu di lanjutkan (Mi'raj) menuju ke langit yang ketujuh. Setelah itu menuju Sidratul Muntaha dengan menggunakan kendaraan Buraq.

Seluruh perjalanan tersebut ditempuh Rasulullah hanya dalam waktu satu malam. Para ulama berbeda pendapat mengenai penetapan waktu terjadinyanya.

Menurut sebagian ulama, peristiwa itu terjadi pada tanggal 27 bulan Rajab, pada pertengahan tahun ke-11 setelah kenabian atau dua tahun sebelum hijrah ke Madinah, sebuah peristiwa yang sempat mencengangkan penduduk kota Makkah saat itu. Ini karena biasanya, untuk menuju Masjid al-Aqsa dari Masjidil Haram saja, mereka membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Apalagi, untuk menuju langit ketujuh dan Sidratul Muntaha! Oleh sebab itu, mulailah bermunculan orang-orang murtad pascaperistiwa tersebut.

Saat itulah tampak antara orang-orang yang benar-benar beriman dan yang setengah-setengah. Padahal sesungguhnya, dengan kekuasaan dan kehendak Allah SWT tidak ada yang mustahil terjadi. "Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Ia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya: jadilah, maka terjadilah ia." (QS. Yaasiin [36]: 82).

Di antara hal-hal yang dialami dan dijumpai Rasulullah SAW saat Isra Mi'raj, ada beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Pertama, Setelah kesulitan akan datang kemudahan. Isra Mi'raj adalah sarana yang dijadikan Allah SWT untuk menghibur hati Nabi Muhammad setelah bertubi-tubi cobaan dan kesulitan menimpanya.

Isra Mi'raj terjadi setelah peristiwa kematian paman dan istri Rasulullah tercinta. Isra Mi'raj juga terjadi setelah Nabi dan kaum Muslimin mengalami embargo ekonomi yang dilakukan kaum kafir Quraisy serta berbagai penderitaan yang lain. Oleh karena itu, bagi seorang Mukmin, cobaan dan kesulitan apa pun tak akan menggoyahkan keimanannya karena ia yakin kemudahan dari Allah akan segera datang.

Kedua, mahapenting dan mulianya ibadah shalat. Saat Mi'raj, di Sidratul Muntaha turunlah perintah melaksanakan ibadah shalat. Jika kita perhatikan, seluruh ibadah dalam Islam, di bumilah tempat diturunkannya perintah untuk melaksanakannya, kecuali shalat.

Shalat diperintahkan di langit. Di situlah letak penting dan mulianya ibadah shalat. Hal itu karena shalat adalah tiang agama. Shalat adalah mi'rajnya orang-orang Mukmin. Shalat adalah takaran baik dan buruknya seorang hamba karena shalat dapat mencegah perbuatan keji dan tercela (QS Al-Ankabut [29]: 45). Oleh karena itu, shalat adalah amal ibadah perdana yang akan ditimbang di hari kiamat nanti.

Ketiga, orang yang benar-benar beriman akan melihat cahaya Allah di hatinya dan tidak menunggu datangnya mukjizat untuk meyakini sebuah kebenaran. Saat orang-orang kafir diberitahu Rasulullah SAW tentang peristiwa Isra Mi'raj, tidak ada satu orang pun dari mereka yang memercayainya. Bahkan, ada sebagian orang Islam yang lemah imannya tidak percaya lalu keluar dari Islam (murtad).

Namun, apa kata Abu Bakar as-Shiddiq? Ia berkata: "Jika ia (Rasulullah SAW) berkata demikian, maka sesungguhnya ia benar. Sesungguhnya aku benar-benar memercayainya lebih jauh dari itu". Sejak itulah Abu Bakar dijuluki as-Shiddiq atau orang yang tepercaya.

Dalam Islam banyak sekali ajaran dan ibadah yang tak mudah dicerna dan dijangkau oleh akal manusia. Sebagai contoh, jumlah rakaat dalam shalat. Mengapa Shalat Shubuh harus dua rakaat, lalu Dzuhur, Ashar, dan Isya empat rakaat, serta Maghrib tiga rakaat?

Pada zaman modern ini sudah banyak penemuan ilmiah yang membuktikan akan kebenaran ajaran Islam, yang pada zaman dahulu tak dapat dicerna oleh akal sama sekali. Para ilmuwan yang menulis buku tentang I'jaz Ilmi (Mukjizat Keilmuan) dalam Alquran dan hadis pun sudah mulai marak. Namun, rahasia Allah di balik ajaran dan perintahnya jauh lebih banyak lagi. Nah, di sinilah akan diuji kesungguhan iman seorang Mukmin.

Keempat, sungguh pentingnya Masjid al-Aqsa di sisi Allah SWT. Saat Isra Mi'raj, Masjid al-Aqsa dijadikan Allah sebagai landasan pacu atau tempat take off Rasulullah hendak mi'raj menuju Sidratul Muntaha dan bertemu dengan Allah.

Mungkin kita sempat bertanya, mengapa tidak langsung saja dari Masjidil Haram? Mengapa harus ke Masjid al-Aqsa terlebih dahulu? Itulah rahasia Ilahi di balik kebesaran, kemuliaan, dan pentingnya Masjid al-Aqsa.

Hal yang harus diimplementasikan dari pentingnya dan mulianya Masjid al-Aqsa di sisi Allah, bagi masyarakat Islam di dunia pada setiap masa adalah menjaga dan melestarikan Masjid al-Aqsa serta menjauhkannya dari tangan-tangan kotor yang berusaha menjajah dan merebutnya dengan berbagai cara. Semangat inilah yang mungkin dijadikan landasan Shalahuddin al-Ayyubi saat membebaskan dan memerdekakan Palestina pada masa lalu.

Kelima, pentingnya menjaga akhlak sosial masyarakat. Pada peristiwa Isra Mi'raj, Rasulullah diperlihatkan oleh Allah akan pedihnya dan dahsyatnya siksaan bagi orang-orang yang telah melakukan dosa-dosa sosial, seperti merampas harta anak-anak yatim, memakan harta hasil riba dan berzina. Dosa-dosa tersebut tidak hanya berkaitan dengan individu pelaku dosa, tetapi berkaitan erat dengan stabilitas tatanan sosial masyarakat.

Oleh karena itu siksaannya pun begitu pedih dan dahsyat. Di tengah-tengah kemajuan informasi dan teknologi saat ini, serta di zaman yang penuh dengan krisis akhlak di berbagai lini kehidupan, bagi masyarakat Muslim, pada setiap peringatan Isra Mi'raj diharapkan dapat saling menasihati.mr-opinirepublika

Tidak ada komentar: