Senin, 10 April 2017

tetaplah hormat

siapapun dia dan suami siapapun dia pasti pernah salah dan dosa.  nanun yang penting adalah sebesar apapun dosa yang diperbuat suamimu, jangan sampai kamu kehilangan hormat kepadanya. Jangan membencinya, apalagi sampai pergi meninggalkannya, karena menikah hakekatnya adalah saling menyempurnakan, san semata-mata karena Alloh, itu sandarannnya.

karenanya jika saat setelah menikah denganmu ia melakukan kesalahan ataupun dosa yang membuatmu menyesal, maka kamu harus pandai berikhlas diri dengan selalu menjadi penyelamatnya.Karena suamimu adalah pakaian kehormatan bagimu, dan begitu juga dengan dirimu sebagai seorang istri, adalah pakaian kehormatan baginya. Jadi, saat terdapat cacat pada dirinya sebab kesalahannya, maka segera tutupilah dia kelebihan yang kamu miliki.

pada hakekat pakaian memang bertujuan untuk menutupi aurat, sedangkan aurat adalah aib, sama halnya dengan aib  yang harus selalu  tutupi dengan segala kelebihan keduanya.
Maka dari itu kamu harus bisa menjadi penyelamatnya, saat ia sedang melakukan kesalahan ataupun tengah berdosa kepada Allah. Jangan membencinya, apalagi sampai menyesali karena sudah menajdi bagian dari hidupnya.

Ingatlah, segala kebaikan yang selama ini telah ia persebahkan untukmu, dan ingatlah bahwa dulu dia pernah berjuang mati-matian dalam membuatmu bahagia. jangan meninggalkannya hanya karena kamu sudah tahu kekurangannya, karena dosanya bukan alasan kamu harus membuyarkan jalinan sakral yang sudah disaksikan Allah, justru disitulah Allah tengah mengajarkanmu caranya bersabar dalam meraih syurganya.

  lelaki yang dimusuhi istrinya biasanya dia akan semakin tenggelam dalam dosanya. Sebab rasa kecewanya ditinggalkan orang yang disanginya pasti akan membuatnya semakin ringkih, sehingga berbuat seadanya dan semaunya selalu ia lakukan.Jadilah Engkau Penyelamat Bukan Pengkhianat, Yang Hanya Setia Dengan Kelebihannya Sesaat

Maka jadilah engkau penyelamat bukan pengkhianat, jangan sampai kamu setia pada suamimu saat tahu kelebihannya saja, karena yang dikatakan setia sebenarnya adalah ketika kamu bisa bersamanya walaupun kamu tahu sisi terburuknya.

Karena tak sedikit para wanita jaman sekarang yang berani meninggalkan suaminya ketika tahu ia tengah melakukan kesalahan ataupun dosa.

Karena Tujuan Menikah Memang Untuk Seling Menyempurnakan Satu Sama Lain

Ingatlah tujuan kamu menikahinya, agar kamu bisa berfikir panjang saat mengetahui kesalahan ataupun dosa yang diperbuatnya.

Karena jika kamu mengingat bahwa tujuan menikahinya adalah untuk menyempurnakan satu sama lain, maka tentu saat mengetahui sisi terburuknya sekalipun kamu tidak akan pernah meninggalkannya.

Kamis, 06 April 2017

hendaklah kamu tetap di rumah

Surah Al Ahdzab : 33: “Dan hendaklah kamu tetap di rumah-rumahmu…”

Berdasarkan ayat ini, maka sebaik-baik tempat bagi seorang wanita adalah di rumahnya. Ia ibarat markaz bagi seorang wanita, tempat ia melaksanakan semua aktivitas kehidupannya.
Akan tetapi meski demikian, wanita masih diperbolehkan untuk keluar dari rumah mereka bila ada keperluan yang dibenarkan menurut syariat, misalnya untuk menuntut ilmu. Itupun dengan syarat:

– Wajib menutup auratnya (mengenakan hijab syar’i)
– Seizin suami atau walinya
– Disertai mahram (jika safar atau keluar rumah malam hari untuk keperluan darurat)

Seorang wanita mukminah sepatutnya menanamkan rasa malu pada dirinya, apabila ia keluar rumah terlalu lama apalagi untuk hal-hal yang semestinya tidak perlu ia lakukan. Apalagi jika itu hanya sekedar untuk jjss (jalan-jalan sore sendiri), refreshing, berkeliaran di mal-mal, tempat-tempat hiburan, dan lain sebagainya.

Satu hal yang perlu menjadi peringatan kepada kaum wanita, adalah bahwa ketika seorang wanita keluar dari rumahnya, maka setan akan menjadikannya indah dalam pandangan manusia, sehingga ia rentan terhadap berbagai godaan dan fitnah.
Intinya, jika memang tidak ada suatu keperluan yang memang betul-betul penting, maka hendaklah para wanita tetap tinggal di rumah-rumahnya, agar terjaga diri dan kehormatannya, dan terjaga pula masyarakatnya dari kemungkinan perilaku amoral dan asusila.

Batasan Aurat untuk Anak

Batasan Aurat untuk Anak

Menutup aurat merupakan persoalan penting yang harus diperhatikan. Terutama oleh seorang muslimah. Karena itu, Alquran menyebutkan secara khusus mengenai batas-batas aurat yang boleh diperlihatkan dan tidak boleh diperlihatkan, serta kepada siapa boleh diperlihatkan. Jika masalah aurat ini tidak diperhatikan dan djaga dengan baik, pasti akan mendatangkan bahaya dan mudharat yang besar.

Secara umum aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Sementara aurat wanita dihadapan mahramnya seperti ayah, ibu, saudara, dst termasuk anak adalah seluruh tubuhnya kecuali tempat-tempat perhiasan yang biasa terlihat (wajah, rambut, leher, dan betis dan kaki). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat an-Nur ayat 31.
Sementara isteri terhadap suami atau sebaliknya, maka tidak ada batasan aurat di antara keduanya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw yang berbunyi, “Jaga auratmu kecuali terhadap suamimu…!” (HR at-Tirmidzi) Juga riwayat bahwa Aisyah ra pernah mandi berdua dengan Rasulullah dalam satu bejana.
Jadi sebagai ibu, kita hanya diperbolehkan untuk memperlihatkan aurat selain yang biasa terlihat seperti leher, rambut, wajah, betis, dan kaki. Terkecuali jika anaknya masih kecil dan belum mumayyiz. Sementara terhadap suami atau sebaliknya tidak ada batasan. Wallahu a’lam

wasiat Umamah binti Al-Harits untuk putrinya

Ada sebuah wasiat yang paling baik di antara wasiat-wasiat yang diriwayatkan dari wanita Arab yaitu wasiat Umamah binti Al-Harits untuk putrinya Ummu Iyyas bin ‘Auf pada malam pertama perkawinannya. Dalam wasiatnya dia berkata:

“Wahai putriku, sesungguhnya engkau akan meninggalkan suasana di mana engkau dilahirkan, dan keluar dari sarang di mana engkau tumbuh. Seandainya ada seorang wanita yang tidak membutuhkan suami karena kekayaan kedua orang tuanya dan kebutuhan kedua orang tuanya terhadapnya, maka engkau adalah orang yang paling tidak membutuhkan suami. Namun, wanita telah diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki diciptakan untuk wanita.”

“Wasiat pertama dan kedua, tunduklah kepada suami dengan penuh kerelaan, dengarkanlah dengan seksama dan taatilah dia.”
“Wasiat ketiga dan keempat, cermatilah arah pandangan mata dan ciuman hidung suami, jangan sampai matanya memandang darimu sesuatu yang jelek dan jangan sampai dia mencium darimu melainkan wangi yang paling sedap.”
“Wasiat kelima dan keenam, cermatilah waktu tidur dan makannya, karena rasa lapar dapat membakar amarah, sementara kekurangan dan terganggunya tidur akan mendatangkan murka.”
“Wasiat kesembilan dan kesepuluh, jangan sekali-kali melanggar perintahnya dan jangan menyebarkan rahasianya, karena bila engkau melanggar perintahnya, maka engkau telah menyempitkan dadanya, dan bila engkau menyebarkan rahasianya, maka engkau telah menghianati amanatnya. Dan jangan sekali-kali engkau bersukacita di hadapannya bila dia sedang sedih, dan jangan pula engkau menampakkan kesedihan dan wajah masam ketika dia sedang gembira.