Rabu, 14 September 2016

Menembus langit



Menembus langit

Dari berbagai kesempatan dan berbagai ceramah agama, sesorang sering mendapat muzakarah berkaitan dengan ibu yang doanya dapat menempus langit. Karenanya jika seorang anak sukses dalam hidupnya, disana ada bagian do’a ibu. Untuk itu siapapun diperintahkan untuk selalu menghormatinya, Al-Qur’an menyerukannya, bukan hanya dalam satu surah, tapi dibanyak surah Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam  kisah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang pernah ditanya oleh sahabatnya mengenai orang yang wajib kita hormati. Beliau menjawab “Ibumu” hingga tiga kali kemudian barulah menjawab “Ayahmu” setelahnya. Begitu mulianya seorang Ibu sehingga harus dihormati hingga tiga kali lebih besar dibandingkan dengan seorang ayah. Setelah bersusah payah mengandung selama sembilan bulan, kemudian menyusui hingga sang anak berumur dua tahun dan kemudian membesarkannya hingga dewasa dan mampu mengurus diri sendiri dan berumah tangga

Namun banyak orang yang mengeluh akan orang tuanya-khususnya ibu, padahal ia tahu ridha Allah  ridha orang tua, dan doa ibu itu sungguh tanpa hijab di hadapan Allah sampai  menembus langit. Sehingga doa seorang ibu yang ia dipanjatkan untuk anaknya boleh jadi sangat mudah untuk Allah kabulkan.

Keluhan yang sering muncul berkisar sifat yang tidak sesuai keinginannya, menurutnya. Dikatakannya orang tua cerewet, suka menyuruh, mengatur jangan ini jangan itu, ketinggalan zaman, kurang gaul dst, yang kesemuanya merupakan kekuarangan yang tidak seberapa dibandingkan dengan begitu banyak kebaikan dan do’a yang selalu ia panjatkan, tapi ia lupakan.

Setelah besarm, dewasa bahkan berumah tangga dan menjadi ibu, barulah sadar, barulah menyelami perasaan ibu yang sebenarnya. Ia baru mengerti kenapa dulu ibunya suka cerewet, harus begini,  harus begitu, ternyata kesemuanya demi kebaikan anaknya yang dilandasi kehawatiran. Ia baru tahu kalau ibunya tanpa diminta selalu mendoakanya, sampai ada istilah disetiap tarikan napasnya ia selalu mendoakan kebaikan anaknya.
Saat anaknya pergi sekolah, selalu ada doa. Bahkan di sepertiga malam tidak jarang ia bangun, sholat tahajjud untuk anaknya. Kemudian mendatangi anaknya yang sedang tidur pulas “ nak maafkan ibu ya..... ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu”. 
Saat anaknya sakit, ia yang gelisah kebingunan, kalau boleh dipindahkan penyakitnya, ia rela untuk menggantikannya, “ ibu saja yang sakit dst” ia rela tidur dilantai menungguinya, agar anaknya bisa tidur nyenyak di kasur empuk berselimut tebal dst. Saat bintang sedang mereduk, persediaan habis,  harapan yang ditunggu tidak kunjung datang, ibu menyiapkan makanan untuk anaknya, ia rela kalau sampai tidak ada yang tersisa untuknya, yang penting anak dapat makan kenyang, begitu ujarnya dalam hati. Kesemuanya baru tersadar saat sudah menjadi ibu dan ibunya sendiri sudah tiada.

Kalau tidak percaya, cobalah tanyakan kepada mereka yang di sana, di kolong jembatan yang sudah tidak beribu lagi. Mereka suka mengeluh bukan karena ibunya cerewet, melainkan karena mereka tidak mempunyai ibu lagi. Bagaimana rasanya tidak mempunyai ibu. Tidak ada lagi yang menyanyikannya saat ia gundah, tidak ada lagi yang membelai rambutnya saat ia butuh kasih sayang dst. 

Ada baiknya mengenang kembali kapan terakhir bersama, saat kesal dan memarahinya. Meski itu dilarang agama , Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’Al-Israa’ : 23-24
bertobatlah dan yang masih mempunyai ibu, sepatutnya  taat dan menghormatinya, Jangan sampai pernah menyakiti hatinya, karena doa seorang ibu mampu menggetarkan arsy Alloh dan membuahkan ijabah dari Allah Azza wa Jalla. Karenanya “ muliakanlah” .



الْجَنَّة تَحْت أَقْدَام الْأُمَّهَات قَالَ رَوَاهُ أَحْمَد وَالنَّسَائِيّ وَابْن مَاجَهْ وَالْحَاكِم

“Surga itu dibawah telapak kaki ibu.” (HR. Ahmad, an-Nasaai, Ibn Maajah dan al-Hakim)...............mr------

Jumat, 09 September 2016

Munkar



Munkar

Munkar itu inkar, lawan kata dari ma’ruf, yang maksudnya adalah perbuatan yang dilakukan menginkari kebenaran, seperti marah, menyakiti orang, berprilaku sombong dan congkak dst, yang kesemuanya ditolak oleh nalar yang bening karena tidak sesuai hakekat kebenaran. siapapun yang melihatnya harus mencegahnya. Seperti difirmankan dalam Qs 3 : 104. : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali-‘Imran [3]:104).

Seseorang yang melakukan memunhkaran biasa malu, karena hal itu merupakan perbuatan tabu, namun perkembangan zaman terus meluncur, sehingga sekarang rasa tabu terasa semakin menipis. Bahkan dibeberapa kejadian rasa tabu sudah hampir tidak dipedulikan lagi, seseorang cuek begitu saja melakukan kemungkaran. Seperti pergaulan  bebas para remaja, seperti dalam postingan media sosial, mereka cuek saja memposting gambar dirinya yang seronok, dan itu disengaja untuk dupertontonkan halayak pengunjung yang mampir. Sehingga nampak semakin bergeser dari yang tabu kemudian menjadi tidak tabu, yang tidak biasa menjadi biasa, yang tidak wajar dianggap wajar, dan yang tidak layak menjadi layak.

Tentu saja sebagai negara yang oleh orang luar dibilang agamis, atau setidaknya ummat muslim mesti segera mengeremnya, sampai berhenti. Mengembalikan kesemula dan jangan ragu-ragu untuk mencegah perbuatan dan prilaku kemungkaran. , “siapa saja yang melihar kemunkaran maka cegahlah dengan tangannya, apabila tidak mampu cegahlah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu cegahlah dengan hatinya; namun yang demikian itu selemah-lemah iman”. 

Kritik sosial untuk postingan yang mungkar perlu digalakkan, perlu berani mengngatkan kepada yang memamerkan keseronokan, jangan membiatkannya bahkan ada yang memasang like sebagai komentarnya. Kalau tidak lambat laun akan membahayakan dan membinasakan kehidupan yang tentram. akan menggerogoti dan merusak tatanan dan keharmonisan kehidupan masyarakat yang langgrng. Sehingga terjadi gejolak dan pergeseran nilai yang mengancam kehidupan yang semakin tidak berdab. Yang pada akhirnya  akan  mengancam kehidupan umat manusia secara keseluruhan.

Begitu halnya dengan prilaku keserakahan yang terjadi pada para pejabat yang tergoda oleh peluang dan kesempatan. Semakin banyak yang tertangkap tangan, nampaknya semakin banyak yang ingin mencoba. Kesemuanya perlu direm dengan sepakem-pakemnya. Bukan saja  semata-mata faktor alam, namun yang paling dominan adalah keingkaran dan kedurhakaan manusia yang merusak lingkungan dengan seenaknya dan semena-mena. Mereka asyik mengeksplorasi alam demi kepentingan dan keuntungan sendiri, sementara akibatnya terjadi kerusakan alam yang sangat patal yang menyebabkan bencan dan musibah terjadi di mana-mana. 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Al-Ruum 30:41).......mr.......



Rabu, 07 September 2016

hikmah

haji

"Dua bulan yang tidak berkurang (pahalanya walaupun harinya kurang dari 30), itulah bulan tempat berkumpul, yaitu Ramadhan dan Dzulhijah." (HR Bukhari dan Muslim).    

 "Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga." (HR Muslim).

  "Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa sebelumnya dan setahun sesudahnya." (HR Muslim).

  memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil mutlaq.  "Tidak ada suatu hari yang lebih mulia  di sisi Allah dan lebih dicintai-Nya jika beramal di dalamnya dibandingkan 10 hari ini. Maka, perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid." (HR Ahmad).

  "Jika kalian melihat hilal Dzulhijah dan salah seorang kalian ingin untuk menyembelih kurban, hendaknya ia menahan (dari mencukur) rambut dan kukunya." (HR Muslim dan Tirmidzi).

-------
 sholat lail

“Dan pada sebagian malam, kerjakanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Robb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Qs Al-Isra: 79)

 , “Di waktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan shalat malam?”  Rasulullah Saw bersabda, “Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya, sedikit sekali yang melaksanakannya,” (HR Ahmad)
-----------
sombong

  "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS Lukman [31]:18).


Minggu, 21 Agustus 2016

lancar atas peran istri.

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suaminya.
1. Istri yang pandai bersyukur
Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur. Suami memberikan hadiah, bersyukur. Suami mencintai setulus hati, bersyukur. Suami memberi kenikmatan sebagai suami istri, 
2. Istri yang tawakal kepada Allah
Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya.
“Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. ” (QS. Ath Thalaq : 3).
Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanita itu. Bisa jadi Allah akan memberi rejeki yang banyak pada suaminya, lalu suami itu memberi nafkah yang cukup pada dirinya.
3. Istri yang baik agamanya
Rasulullah menjelaskan kalau wanita dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya.
“Pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Beruntung itu beruntung didunia dan di akhirat. Beruntung didunia, salah satu aspeknya yaitu dimudahkan mendapatkan rejeki yang halal.
Coba kita perhatikan, insya Allah tidak ada satu pun keluarga yang semua anggotanya patuh pada Allah lalu mereka mati kelaparan atau nasibnya mengenaskan. Lalu bagaimana dengan seorang suami yang banyak bermaksiat pada Allah namun rejekinya lancar? Bisa jadi Allah akan memberi rejeki pada istri dan anak-anaknya melalui dirinya. Jadi karena taqwa istrinya dan bayi atau anak kecilnya yang belum berdosa, Allah lalu mempermudah rejekinya. Suami semacam itu sebenarnya berhutang pada istrinya.
4. Istri yang banyak beristighfar
Diantara keutamaan istighfar yaitu mendatangkan rejeki. Hal semacam itu dapat dilihat dalam Surat Nuh ayat 10 sampai 12. Kalau dengan memperbanyak istighfar, Allah akan mengirimkan hujan dan memperbanyak harta.
“Maka saya katakan pada mereka, ‘Mohonlah ampun pada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan padamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (juga di dalamnya) sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh : 10-12).
5. Istri yang gemar silaturahim
Istri yang gemar menyambung silaturahim, baik pada orang tuanya, mertuanya, sanak familinya, serta saudari-saudari seaqidah, pada intinya ia tengah menolong suaminya membuat lancar rejeki. Sebab keutamaan silaturahim adalah dilapangkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya.
Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
6. Istri yang suka bersedekah
Istri yang suka bersedekah, dia juga pada hakikatnya sedang melipatgandakan rejeki suaminya. Sebab salah satu keutamaan sedekah seperti disebutkan dalam surat Al Baqarah, akan dilipatgandakan Allah sampai 700 kali lipat. Bahkan sampai kelipatan lain sesuai kehendak Allah.
Bila istri diberi nafkah oleh suaminya, lalu sebagiannya ia gunakan untuk sedekah, mungkin tidak segera dibalas melaluinya. Tetapi bisa jadi dibalas melalui suaminya. Jadilah pekerjaan suaminya lancar, rejekinya berlimpah.
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) untuk siapapun yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. ” (QS. Al Baqarah : 261).
7. Istri yang bertaqwa
Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jaminan rejeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ia akan mendapatkan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Seperti firman Allah dalam surat Ath Talaq ayat 2 dan 3.
“Barangsiapa bertaqwa pada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya serta memberinya rizki dari arah yg tidak disangka-sangka” (QS. At Thalaq : 2-3).
8. Istri yang selalu mendoakan suaminya
Bila seorang ingin mendapatkan suatu hal, ia perlu mengetahui siapakah yang memilikinya. Ia tidak dapat mendapatkan suatu hal itu tetapi dari pemiliknya. Begitulah rejeki. Rejeki sebenarnya adalah pemberian dari Allah Azza wa Jalla. Dialah yang Maha Pemberi rejeki. Jadi jangan hanya mengandalkan usaha manusiawi tetapi perbanyaklah berdoa memohon kepadaNya. Doakan suami supaya selalu mendapatkan limpahan rejeki dari Allah, dan yakinlah bila istri berdoa pada Allah untuk suaminya pasti Allah akan mengabulkannya.
“DanTuhanmu berfirman : Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan” (QS. Ghafir : 60).
9. Istri yang suka shalat dhuha
Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang luar biasa keutamaannya. Shalat dhuha dua raka’at setara dengan 360 sedekah untuk menggantikan hutang sedekah setiap persendian. Shalat dhuha empat rakaat, Allah akan menjamin rejekinya sepanjang hari.
“Di dalam tubuh manusia ada 360 sendi, yang semuanya harus di keluarkan sedekahnya. ” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang dapat melakukan itu wahai Nabiyullah? ” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada didalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan suatu hal yang mengganggu dari jalan adalah Jadi bila engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), jadi dua raka’at Dhuha telah mencukupimu. ” (HR. Abu Dawud)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Saya cukupkan untukmu di sepanjang hari itu. ” (HR. Ahmad).
10. Istri yang taat dan melayani suaminya
Salah satu kewajiban istri pada suami adalah mentaatinya. Selama perintah suami tidak dalam rangka mendurhakai Allah dan RasulNya, istri wajib mentaatinya.
Apa hubungannya dengan rezeki? Ketika seorang istri taat pada suaminya, jadi hati suaminya juga tenang dan damai. Saat hatinya damai, ia dapat berpikir lebih jernih dan kreatifitasnya muncul. Semangat kerjanya juga menggebu. Ibadah juga lebih tenang, rizki mengalir lancar.
sumber

Ketika Menyambut Suami

Istri Lakukan Ini Ketika Menyambut Suami Pulang Kerja



Di antara amal perbuatan terpenting bagi seorang wanita Muslimah setelah beribadah kepada Allohsubhanahu wa ta’ala, adalah usaha untuk menarik hati suami. Sehingga sang suami merasa senang berada di sampingnya, tenang hidup bersamanya, dan bahagia dapat menemaninya.
Oleh karena itu, istri yang cerdas akan mengupayakan beragam hal yang sesuai syariat agar dapat menyenangkan dan menggembirakan hati suaminya, sehingga sang istri dapat duduk bersama di atas singgasana kenikmatan, ketenangan, dan kebahagiaan.
“Menurut saya, menyambut kedatangan suami adalah hal yang tidak begitu penting, bahkan sudah jadi rutinitas yang biasa-biasa saja tanpa ada kesan yang spesial.”
Mungkin itulah yang terlintas dalam benak kita. Namun perlu diketahui bahwa sikap menyambut suami yang baik, merupakan suatu gerbang menuju rumah tangga yang sakinah. Ingat, biasanya sesuatu itu dilihat dari kesan pertamanya.
Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para istri di rumah ketika menyambut kedatangan sang “pangeran” dari medan juang, yaitu:
1. Berikan kesan pertama yang indah
Di antara sifat yang menjadikan seorang istri semakin cantik di mata suaminya adalah ceria, riang, gembira dan ramah tamah. Ketika suaminya pulang ke rumah dalam keadaan letih sehabis bekerja, atau setelah mengerahkan pemikirannya, sang istri akan menyambutnya dengan wajah ceria, senyum manis yang merekah, dan menyiramkan kepada suami kata-kata yang menyenangkan sehingga dapat membersihkan guratan keletihan dalam rona wajahnya dan me-refresh kemelut dalam pikirannya.
Tak lupa sang istri memperindah dan melembutkan suaranya, menghiasi alunan suara dengan kelembutan nada dan irama dalam kata-katanya. Maka berbahagialah suami yang disambut dengan sambutan seperti ini.
Berbeda halnya jika seorang istri menyambut sang suami dengan muka yang cemberut, sapaan yang se-”ikhlasnya” alias formalitas dan gaya-gaya lain yang semisalnya. Alih-alih ingin mendapatkan hati suami, yang didapatkan malah “empedu” yang pahit.
2. Perhatikan performa tampilan anda
Seorang wanita sholihah akan selalu berdandan dengan berbagai macam perhiasan bagi suaminya, sehingga dia akan tampak cantik dan menawan. Tujuannya tidak lain agar menyenangkan pandangan suami dan membahagiakan hatinya.
Jangan beranggapan kalau seorang wanita sholihah adalah mereka yang hanya fokus beribadah kepada Alloh   saja dan anti bersolek, rambut yang acak-acakan, wajahnya pucat dan berpakaian kumal. Anggapan itu benar-benar salah total.
Karena para wanita sholihah pada masa kurun terbaik pun seperti ‘Aisyahrodhiallohu anha, selalu memakai pakaian dan perhiasan yang baik pada saat di rumah. Hal tersebut ia lakukan hanya untuk suaminya tercinta, Rosulullohsholallohu alaihi wasallam.
Alangkah bahagianya seorang suami ketika disambut istrinya yang telah berhias seindah mungkin bagi dirinya.
Bagaimana jika sebaliknya? Apa kiranya ekspresi sang suami ketika ia melihat sosok yang nampak di balik pintu adalah seorang istri yang berambut acak-acakan, wajah yang pucat pasi dan pakaian yang masih kotor karena kerjaan di dapur?
Jangan harapkan ada ekspresi “sumringah” dari suami yang disambut oleh istri yang demikian keadaannya.
3. Beri suami kabar manis
Sangat banyak hal yang ingin diceritakan seorang istri ketika suaminya pulang, ada kabar yang baik, namun terkadang ada pula kabar yang tidak mengenakkan hati.
Setiap orang akan senang jika mendapatkan kabar atau berita yang menggembirakannya, maka jangan ragu untuk segera memberi kabar gembira kepada suami Anda.
Sedangkan untuk jenis kabar yang kedua, sebaiknya anda sebagai istri harus menahan diri untuk tidak menceritakannya kepada suami yang baru pulang. Tunggulah waktu dan kesempatan yang tepat.
Dengan memberi kabar gembira dan menahan kabar buruk, dada suami yang sesak dapat lapang kembali dan pikiran yang kusut dapat jernih kembali. Setelah situasi dan kondisi telah normal kembali dan suami telah siap untuk menerima masalah kembali, barulah diceritakan problem yang ada dan didiskusikan pemecahannya.
4. Qona’ah dan syukur
Istri yang baik akan senantiasa menerima kedatangan suami bagaimanapun hasil yang telah ia upayakan dalam mengais rezeki. Adakalanya suami datang tanpa membawa hasil yang diharapkan.  Kita selalu berharap suami datang dengan rezeki berlimpah, namun kenyataannya ia hanya membawa “sesuap” rezeki.
Qona’ah dan syukur. Itulah sikap yang harus kita kedepankan ketika menghadapi ujian dalam masalah rezeki. Syukurilah pemberian suami dengan berterima kasih kepadanya, dan bersyukur kepada Alloh, sebesar apapun itu. Ingat, Alloh ta’ala akan menambah nikmat bagi orang-orang yang bersyukur dan mengancam dengan adzab bagi mereka yang enggan bersyukur. Allohsubhanahu wa ta’ala berfirman,
 وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrohim [14]: 7)
5. Menyiapkan makanan dan menata rumah dengan rapi
Biasakanlah agar ketika suami datang telah tersedia makanan baginya. Untuk itu, seorang istri harus cekatan dalam menentukan waktu dan menyediakan menu makanan sesuai dengan selera suami.
Penataan rumah yang rapi dan teratur, merupakan hal yang dianjurkan dalam Islam, karena hal tersebut akan membuat suami dan penghuni rumah lainnya merasa nyaman tinggal di dalamnya.
Demikianlah beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka menyambut kedatangan suami. Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam. (akhwatmuslimah)

Minggu, 14 Agustus 2016

seperti amalan haji

 Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, seorang laki-laki pernah datang menemui Rasulullah SAW, lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya aku ingin sekali berjihad, tetapi aku tidak memiliki kemampuan untuk itu.” Rasulullah SAW lalu bertanya kepadanya, “Apakah masih ada yang hidup di antara kedua orang tuamu?” Lelaki itu menjawab, “Ibuku.”Rasul pun kemudian mengatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah dengan berbuat baik kepada ibumu. Sebab, jika engkau melakukan itu, engkau adalah jamaah haji, umrah, dan mujahid (orang yang berjihad).” (HR Ath Thabrani dalam Al Mu'jam Al Ausath no 2915).

Kamis, 11 Agustus 2016

membawa berkah suami

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suaminya.
1. Istri yang pandai bersyukur
Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur. Suami memberikan hadiah, bersyukur. Suami mencintai setulus hati, bersyukur. Suami memberi kenikmatan sebagai suami istri, bersyukur.
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan : bila kalian bersyukur, tentu Kami akan menambah (nikmat) padamu apabila kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya adzabku sangat pedih” (QS. Ibrahim : 7).

2. Istri yang tawakal kepada Allah
Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya.
“Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. ” (QS. Ath Thalaq : 3).
Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanita itu. Bisa jadi Allah akan memberi rejeki yang banyak pada suaminya, lalu suami itu memberi nafkah yang cukup pada dirinya.

3. Istri yang baik agamanya
Rasulullah menjelaskan kalau wanita dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya.
“Pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Beruntung itu beruntung didunia dan di akhirat. Beruntung didunia, salah satu aspeknya yaitu dimudahkan mendapatkan rejeki yang halal.
Coba kita perhatikan, insya Allah tidak ada satu pun keluarga yang semua anggotanya patuh pada Allah lalu mereka mati kelaparan atau nasibnya mengenaskan. Lalu bagaimana dengan seorang suami yang banyak bermaksiat pada Allah namun rejekinya lancar? Bisa jadi Allah akan memberi rejeki pada istri dan anak-anaknya melalui dirinya. Jadi karena taqwa istrinya dan bayi atau anak kecilnya yang belum berdosa, Allah lalu mempermudah rejekinya. Suami semacam itu sebenarnya berhutang pada istrinya.

4. Istri yang banyak beristighfar
Diantara keutamaan istighfar yaitu mendatangkan rejeki. Hal semacam itu dapat dilihat dalam Surat Nuh ayat 10 sampai 12. Kalau dengan memperbanyak istighfar, Allah akan mengirimkan hujan dan memperbanyak harta.
“Maka saya katakan pada mereka, ‘Mohonlah ampun pada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan padamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (juga di dalamnya) sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh : 10-12).

5. Istri yang gemar silaturahim
Istri yang gemar menyambung silaturahim, baik pada orang tuanya, mertuanya, sanak familinya, serta saudari-saudari seaqidah, pada intinya ia tengah menolong suaminya membuat lancar rejeki. Sebab keutamaan silaturahim adalah dilapangkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya.
Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
6. Istri yang suka bersedekah
Istri yang suka bersedekah, dia juga pada hakikatnya sedang melipatgandakan rejeki suaminya. Sebab salah satu keutamaan sedekah seperti disebutkan dalam surat Al Baqarah, akan dilipatgandakan Allah sampai 700 kali lipat. Bahkan sampai kelipatan lain sesuai kehendak Allah.
Bila istri diberi nafkah oleh suaminya, lalu sebagiannya ia gunakan untuk sedekah, mungkin tidak segera dibalas melaluinya. Tetapi bisa jadi dibalas melalui suaminya. Jadilah pekerjaan suaminya lancar, rejekinya berlimpah.
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) untuk siapapun yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. ” (QS. Al Baqarah : 261).

7. Istri yang bertaqwa
Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jaminan rejeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ia akan mendapatkan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Seperti firman Allah dalam surat Ath Talaq ayat 2 dan 3.
“Barangsiapa bertaqwa pada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya serta memberinya rizki dari arah yg tidak disangka-sangka” (QS. At Thalaq : 2-3).

8. Istri yang selalu mendoakan suaminya
Bila seorang ingin mendapatkan suatu hal, ia perlu mengetahui siapakah yang memilikinya. Ia tidak dapat mendapatkan suatu hal itu tetapi dari pemiliknya. Begitulah rejeki. Rejeki sebenarnya adalah pemberian dari Allah Azza wa Jalla. Dialah yang Maha Pemberi rejeki. Jadi jangan hanya mengandalkan usaha manusiawi tetapi perbanyaklah berdoa memohon kepadaNya. Doakan suami supaya selalu mendapatkan limpahan rejeki dari Allah, dan yakinlah bila istri berdoa pada Allah untuk suaminya pasti Allah akan mengabulkannya.
“DanTuhanmu berfirman : Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan” (QS. Ghafir : 60).

9. Istri yang suka shalat dhuha
Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang luar biasa keutamaannya. Shalat dhuha dua raka’at setara dengan 360 sedekah untuk menggantikan hutang sedekah setiap persendian. Shalat dhuha empat rakaat, Allah akan menjamin rejekinya sepanjang hari.
“Di dalam tubuh manusia ada 360 sendi, yang semuanya harus di keluarkan sedekahnya. ” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang dapat melakukan itu wahai Nabiyullah? ” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada didalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan suatu hal yang mengganggu dari jalan adalah Jadi bila engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), jadi dua raka’at Dhuha telah mencukupimu. ” (HR. Abu Dawud)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Saya cukupkan untukmu di sepanjang hari itu. ” (HR. Ahmad).

10. Istri yang taat dan melayani suaminya
Salah satu kewajiban istri pada suami adalah mentaatinya. Selama perintah suami tidak dalam rangka mendurhakai Allah dan RasulNya, istri wajib mentaatinya.
Apa hubungannya dengan rezeki? Ketika seorang istri taat pada suaminya, jadi hati suaminya juga tenang dan damai. Saat hatinya damai, ia dapat berpikir lebih jernih dan kreatifitasnya muncul. Semangat kerjanya juga menggebu. Ibadah juga lebih tenang, rizki mengalir lancar.
sumber