Minggu, 24 September 2017

menguap

Kita sering menyepelekan sesuatu yang padahal telah diwanti-wanti oleh Rasulullah sebagai perbuatan syetan atau bisa menyebabkan syetan mudah mengganggu diri kita.
Syetan itu dijelaskan Allah dalam Al quran sebagai musuh yang nyata bagi manusia. Mereka jelas-jelas mengganggu dan bisa menyesatkan kita.
Jika merasa sangat mudah marah, malas ibadah, gampang lelah, coba deh hentikan melakukan hal-hal yang bisa memudahkan syetan mengganggu diri kita atau bahkan masuk ke dalam tubuh kita. Ajarkan juga keluarga dan teman-teman terdekat mengenai bahaya ini. Berikut ini 7 di antaranya:
1. Menguap Lebar Tanpa Menutup Mulut
“Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin.” (HR Muslim)
“Apabila salah seorang di antara kalian menguap maka hendaklah menutup mulut dengan tangannya karena syeitan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka).” (HR. Muslim no.2995 (57) dan Abu Dawud no.5026)
2. Makan dan Minum Tanpa Mengucap Basmallah
“Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya.” (HR Abu Daud)
3. Makan dan Minum Dengan Tangan Kiri
Jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya” (HR. Muslim no. 2020)
4. Memakai Segala Sesuatu Dari Bagian Kiri Tubuh
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membiasakan diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya” (HR. Bukhari 168).
5. Tidak Mengibas Tempat Tidur Sebelum Menggunakannya
“Apabila salah seorang dari kalian hendak barbaring di tempat tidurnya hendaklah ia kibas-kibas tempat tidurnya itu dengan sarungnya. Karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada tempat tidurnya setelah ia tinggalkan sebelumnya.” (HR Bukhari Muslim)
Hadits lainnya sebagai tambahan: “Bagi orang yang bangun dari tempat tidurnya kemudian kembali lagi, maka dianjurkan untuk mengibasinya kembali.” (Sebagaimana hadits riwayat Tirmidzi. 3410, dishahihkan dalam Kalim Thoyyib: 3410)
“Tidak ada satu kasur pun yg tergelar di dalam suatu rumah yg tidak ditiduri oleh manusia, kecuali SETAN AKAN TIDUR DI ATAS KASUR ITU…” (Akamul Marjan fi ahkamil Jaan hal.150)
6. Masuk Kamar Mandi Tidak Membaca Bismillah atau Doa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, beliau ucapkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan) (HR. Bukhari muslim)
“Masuklah ke dalam jamban (WC/toilet) dengan mendahulukan kaki kiri, ke luar dengan mendahulukan kaki kanan.” (H.R. Tirmidzi)
7. Buang Kotoran Sembarangan
Baik kotoran hajat (buang air kecil, buang air besar), ataupun berupa darah kotor bekas pembalut, bekas berbekam dllsb.
“Takutlah (jauhilah) dua perbuatan terkutuk!”
Para sahabat bertanya, “Apakah kedua perbuatan itu wahai Rasulullah?”
Jawab Beliau, “Orang yang buang air besar di jalan tempat orang banyak melintas atau di tempat mereka berteduh (seperti di bawah pohon).” (H.R. Muslim).
“Jangan buang air di lubang binatang, di jalan tempat orang lewat, di tempat berteduh, di sumber air, di tempat pemandian, di bawah pohon yang sedang berbuah, atau di air yang mengalir ke arah orang-orang yang sedang mandi atau mencuci.” (H.R. Muslim, Tirmidzi)
Semoga kita senantiasa berhati-hati dan tidak menyepelekan permasalahan ini

Gus Sholah: Pemuda NU Jangan Lupakan Kekejaman PKI pada Kiai dan Santri

AKARTA—Kepada pemuda NU, Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang KH. Shalahuddin Wahid, mengimbau agar tidak melupakan sejarah soal kekejaman komunis pada Kiai dan Santri sejak 1965 ke belakang.
“Anak-anak muda NU yang tidak merasakan suasana yang terjadi pada tahun 1965 ke belakang, jangan melupakan (kekejaman) ini. Kalau (warga Nahdliyin) yang mengalami gak mungkin lupa,” kata Gus Sholah saat mengisi acara ICMI ‘Sosialisasi Empat Pilar’ di MPR, seperti dikutip dari Republika, Sabtu (23/9/2017).
Adik kandung Gus Dur ini menyayangkan bila ada anak muda NU atau generasi muda NU yang memperdebatkan apa yang dilakukan PKI di masa lalu. Sebab menurut Gus Sholah PKI jelas bertanggung jawab atas penyiksaan dan penculikan para Kiai dan santri NU di Jawa Timur sejak peristiwa Madiun 1948.
PKI dan Komunisme, menurut Gus Sholah, menjadi momok sejarah bagi bangsa ini karena bahaya laten ideologis itu masih ada. Hal yang sama dengan pemberontakan DI/TII, dimana mereka ditumpas habis hingga 1960-an. Termasuk pemberontakan Permesta itu soal ketidakadilan ekonomi.

-----------

Publik-News.com – Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, Jenderal (Pur) Try Sutrisno merasa heran dengan wacana kemunculan PKI yang kembali ingin dihidupkan.
Ia meminta semua pihak mewaspadai karena anak cucunya bisa masuk pendidikan Akademi Militer.

“Sekarang tidak mustahil anak cucu PKI akan masuk ke Akmil. Itu sasaran strategis jangka panjang,” kata Try Sutrisno di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat, (22/9/2017).
Mak itu, ia meminta jajaran di pendidikan Akmil, Akademi Ilmu Kepolisian, maupun di Angkatan Udara dan Angkatan Laut agar lebih hati-hati.
“Intinya kewaspadaan kepada PKI harus tetap karena ideiologi predator Pancasila itu banyak,” ujarnya,”ujarnya
Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menginstruksikan prajuritnya agar selalu waspada dengan kemunculan komunis yang ingin menyusup ke Akmil.
“TNI selalu waspada bagi yang masuk TNI karena ini sudah keputusan, tetapi kami tahu itu siapa saja. Tidak menutup kemungkinan kami, tidak semua datanya kami tahu. Tetapi diterima,” ujar Gatot.(Fq)

------------

TRIBUNJABAR.CO.ID, JAKARTA - Kamis (21/9/2017) siang, Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal TNI A Yani tiba-tiba ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.
Museum yang terletak di jalan Lembang No.58, Menteng, Jakarta Pusat ini memang menjadi tempat bersejarah di mana Jenderal Ahmad Yani ditembak oleh pasukan Tjakrabirawa pada 1 Oktober 1965.
Tepat di halaman depan museum yang dulunya kediaman Jenderal Ahmad Yani, sang putra bungsu yakni Eddy Yani tengah bercerita kepada para pengunjung museum tentang peristiwa kelam tersebut.

"Ini bapak Eddy yang di film G30S/PKI yang masih kecil itu ya. Bapak berarti yang menyaksikan langsung Pak Jenderal A. Yani ditembak dan diculik oleh pasukan Tjakrabirawa ya?" tanya salah satu pengunjung.
"Iya benar bu. Saya yang menyaksikan langsung bapak ditembak, diseret, dibawa pergi," jawab Eddy Yani.
Diketahui memang, Eddy Yani yang saat itu berumur 7 tahun memang menyaksikan secara langsung peristiwa penembakan ayahnya tepat pukul 04.35 WIB.

Eddy Yani pulalah yang membangunkan Jenderal Ahmad Yani sesaat sebelum peristiwa berdarah itu terjadi.
Mendengar cerita Eddy, salah satu pengunjung bahkan membayangkan terjadinya peristiwa tersebut.


Bahkan, raut wajahnya sampai ditutupi dengan tangan.
"Yaa..Allah.. kejam sekali mereka ya pak," ucap pengunjung lainnya.

Sementara itu, Kasyono warga Serang, Banten sengaja mengajak istri beserta ketiga anaknya untuk mengunjungi museum bersejarah Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal TNI Ahmad Yani.
Ia beralasan, kedatanganya ke sini untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anaknya mengenai Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani dibunuh.

"Alasan saya datang ke sini untuk memberi tahu anak saya bahwa salah satu sejarah di negara kita itu ada seperti ini gerakan G30S/PKI. Yang menjadi korban 7 Jenderal salah satunya Pahlawan Revolusi namanya Jenderal A. Yani ada disini?" ujar Kasyono kepada Tribunnews.
Selain itu, Kasyono juga mengungkapkan rasa bahagiannya bisa bertemu dan berbincang langsung dengan anak dari Jenderal A. Yani.
"Saya seneng ya, jadi tahu peristiwa G30S/PKI itu seperti apa langsung dari anak Pak A. Yani. Teryata kenyataannya lebih kejam ketimbang filmnya," katanya. (Fransiskus Adhiyuda Prasetia)

Madiun 1948

Peristiwa Madiun 1948, Sejarah Kebiadaban PKI Terhadap Ulama



Peristiwa Madiun 1948, Sejarah Kebiadaban PKI Terhadap Ulama
Sumur-sumur ini menjadi saksi bisu kebiadaban PKI terhadap para ulama dan pejuang Indonesia pada Peristiwa Madiun 1948 silam. Foto/IST

A+ A-
PERISTIWA Madiun 69 tahun silam tak akan pupus dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1948 itu merupakan peristiwa kelam yang telah merenggut banyak nyawa ulama dan tokoh-tokoh agama.

Sejak Peristiwa Madiun 1948 dan pemberontakan G30SPKI 1965 menjadi bukti betapa hebatnya ancaman komunisme di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Peristiwa Madiun 1948 dilakukan anggota PKI dan partai-partai kiri lainnya yang tergabung dalam organisasi bernama Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Adapun latar belakang terjadinya pemberontakan PKI Madiun 1948 menyusul jatuhnya kabinet Amir Syarifuddin pada masa itu. Penyebab jatuhnya kabinet Amir akibat kegagalannya pada perundingan Renville yang merugikan Indonesia. Untuk merebut kembali kedudukannya, 28 Juni 1948 Amir Syarifuddin membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Organisasi ini didukung oleh Pemuda Sosialis Indonesia, Partai Sosialis Indonesia, PKI, dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Mereka melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan pemogokan-pemogokan kerja bagi buruh. Selain itu melakukan pembunuhan ulama dan pejuang kemerdekaan.

Adapun tujuan mereka adalah ingin meruntuhkan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan menggantinya dengan negara komunis. Segala cara pun mereka lakukan demi memuluskan misinya.

Sebelum Peristiwa Madiun, PKI juga telah melakukan kekacauan di Solo (Surakarta) hingga menewaskan banyak perwira TNI AD dan tokoh pejuang 1945. Oleh PKI, daerah Surakarta dijadikan daerah yang kacau (wildwest). Sedangkan Madiun dijadikan PKI sebagai basis gerilya.

Pada tanggal 18 September 1948, Musso memproklamasikan berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Sejak saat itu, gerakan PKI ini semakin merajalela hingga menguasai dan menduduki tempat-tempat penting di Madiun.

Sejarawan Agus Sunyoto mengungkapkan fakta sejarah bagaimana kebiadaban PKI melakukan makar dan pemberontakan kala itu. Agus menceritakan kekejaman PKI ini di berbagai sumber referensi seperti buku, makalah, buletin dan forum diskusi atau seminar.

Agus yang juga penulis buku ‘Banser Berjihad Menumpas PKI’ ini mengungkapkan ada ribuan nyawa umat Islam termasuk para ulama NU menjadi korban dan simbol-simbol Islam dihancurkan.

Keberhasilan FDR/PKI menguasai Madiun didisusul dengan aksi penjarahan, penangkapan sewenang-wenang terhadap musuh PKI. Mereka tidak segan-segan menembak, hingga berbagai macam tindakan fasisme berlangsung sehingga membuat masyarakat Kota Madiun ketakutan.

Agus menceritakan, pada tahun 1948 itu para pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap dan dibunuh. Orang-orang berpakaian Warok Ponorogo dengan senjata revolver dan kelewang menembak atau membunuh orang-orang yang dianggap musuh PKI. Mayat-mayat pun bergelimpangan di sepanjang jalan. Bendera merah putih dirobek diganti bendera merah berlambang palu arit. Potret Soekarno diganti potret Moeso.

Liputan wartawan ‘Sin Po’ yang berada di Madiun, menuliskan detik-detik ketika PKI pamer kekejaman itu dalam reportase yang diberi judul: 'Kekedjeman kaoem Communist; Golongan Masjoemi menderita paling heibat; Bangsa Tionghoa "ketjipratan" djoega.'

Tanggal 18 September 1948 pagi sebelum terbit fajar, sekitar 1.500 orang pasukan FDR/PKI (700 orang di antaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Pandjang Djoko Prijono) bergerak ke pusat Kota Madiun.

Kesatuan CPM, TNI, Polisi, aparat pemerintahan sipil terkejut ketika diserang mendadak. Terjadi perlawanan singkat di markas TNI, kantor CPM, kantor Polisi. Pasukan Pesindo bergerak cepat menguasai tempat-tempat strategis di Madiun. Saat fajar terbit, Madiun sudah jatuh ke tangan FDR/PKI. Sekitar 350 orang ditahan.
 Di waktu yang sama, di Kota Magetan sekitar 1.000 orang pasukan FDR/PKI bergerak menyerbu Kabupaten, kantor Komando Distrik Militer (Kodim), Kantor Onder Distrik Militer (Koramil), Kantor Resort Polisi, rumah kepala pengadilan, dan kantor pemerintahan sipil di Magetan.

Sama dengan penyerangan mendadak di Madiun, setelah menguasai Kota Magetan dan menawan bupati, patih, sekretaris kabupaten, jaksa, ketua pengadilan, kapolres, komandan Kodim, dan aparat Kabupaten Magetan, mereka juga menangkap dan membunuh tokoh-tokoh Masyumi dan PNI di kampung-kampung, pesantren-pesantren, desa-desa.

Gadis Rasid, seorang pejuang yang juga wartawan pada tahun 1940-an menulis reportase tentang kebiadaban FDR/PKI tersebut. Gadis menyaksikan pembantaian massal di Gorang-gareng, Magetan. Pembunuhan, perampokan dan penangkapan yang dilakukan FDR/PKI itu diberitakan surat kabar Merdeka 1 November 1948.

Meski tidak sama dengan aksi serangan di Madiun dan Magetan yang sukses mengambil alih pemerintahan, serangan mendadak yang sama pada pagi hari tanggal 18 September 1948 itu dilakukan oleh pasukan FDR/PKI di Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, Cepu.

Sama dengan di Madiun dan Magetan, aksi serangan FDR/PKI selalu meninggalkan jejak pembantaian massal terhadap musuh-musuh mereka. Antropolog Amerika, Robert Jay, yang ke Jawa Tengah pada tahun 1953 mencatat bagaimana PKI melenyapkan tidak hanya pejabat pemerintah, tapi juga penduduk, terutama ulama-ulama ortodoks, santri dan mereka yang dikenal karena kesalehannya kepada Islam: mereka itu ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang.

Masjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan santri-santrinya dikunci di dalam madrasah, lalu madrasahnya dibakar. Tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ulama itu orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik yang tidak melawan. Setelah itu, rumah-rumah pemeluk Islam dirampok dan dirusak.

Tindakan kejam FDR/PKI selama menjalankan aksi kudeta itu menyulut amarah Presiden Soekarno yang mengecam tindakan tersebut dalam pidato yang berisi seruan bagi rakyat Indonesia untuk menentukan nasib sendiri dengan memilih: “Ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka-atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia ke Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga.

Presiden Soekarno menyeru agar rakyat membantu alat pemerintah untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah. Madiun harus lekas di tangan kita kembali”.

Sejarah mencatat, bahwa antara tanggal 18-21 September 1948 gerakan makar FDR/PKI yang dilakukan dengan sangat cepat itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai pemberontakan. Sebab dalam tempo hanya tiga hari, FDR/PKI telah membunuh pejabat-pejabat negara baik sipil maupun militer, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh pendidikan, bahkan tokoh agama.

Setelah gerakan makar FDR/PKI berhasil ditumpas TNI dibantu masyarakat, awal Januari tahun 1950 sumur-sumur ‘neraka’ yang digunakan FDR/PKI mengubur korban-korban kekejaman mereka dibongkar oleh pemerintah. Puluhan ribu masyarakat dari Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek datang menyaksikan pembongkaran sumur-sumur ‘neraka’.

Mereka bukan sekadar melihat peristiwa itu, namun sebagian di antara mereka ingin mencari anggota keluarganya yang diculik PKI. Diantara sumur-sumur ‘neraka’ yang dibongkar itu, informasinya diketahui justru berdasar pengakuan orang-orang PKI sendiri.

Dalam proses pembongkaran sumur-sumur ‘neraka’ itu terdapat tujuh lokasi ditambah dua lokasi pembantaian di Magetan, yaitu, (1) Sumur ‘neraka’ Desa Dijenan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Magetan; (2) Sumur ‘neraka’ I Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan; (3) Sumur ‘neraka’ II Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan; (4) Sumur ‘neraka’ Desa Cigrok, Kecamatan Kenongomulyo, Kabupaten Magetan; (5). Sumur ‘neraka’ Desa Pojok, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan; (6) Sumur ‘neraka’ Desa Batokan, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Magetan; (7) Sumur ‘neraka’ Desa Bogem, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan.

Sementara dua lokasi killing fields yang digunakan FDR/PKI membantai musuh-musuhnya, yaitu ruang kantor dan halaman pabrik gula Gorang-gareng dan Alas Tuwa di dekat Desa Geni Langit di Magetan.

 Fakta kekejaman FDR/PKI tahun 1948 ini disaksikan ribuan warga masyarakat yang menyaksikan langsung pembongkaran sumur-sumur ‘neraka’ itu. Setelah diidentifikasi diperoleh sejumlah nama pejabat pemerintahan maupun TNI, ulama, tokoh Masjoemi, tokoh PNI, polisi, camat, kepala desa, bahkan guru.

Di sumur tua Desa Soco ditemukan kurang lebih 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Sebanyak 78 orang di antaranya dapat dikenali, sedangkan sisanya tidak dikenal. Salah satu di antara korbannya adalah KH Soelaiman Zuhdi Affandi, pimpinan Ponpes Ath-Tohirin Mojopurno, Magetan.

Kemudian, Kyai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran. Jasadnya ditemukan di Sumur ‘neraka’ II Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Selain Kyai Imam Mursjid, ulama lain ikut menjadi korban yaitu Kyai Zoebair, Kyai Malik, Krai Noeroen, Kyai Moch Noor.

Lalu, di sumur tersebut ditemukan jasad R Ismaiadi, Kepala Resort Polisi Magetan; R Doerjat (Inspektur Polisi Magetan), Kasianto, Soebianto, Kholis, Soekir, (keempatnya anggota Polri); dan masih banyak pejabat dan ulama lainnya.

Di sumur ‘neraka’ I Desa Soco ditemukan jasad Soehoed (camat Magetan); R Moerti (Kepala Pengadilan Magetan); Mas Ngabehi Soedibyo (Bupati Magetan). Kemudian ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan warga Magetan.

Selain itu, di Sumur ‘neraka’ Desa Cigrok, Kecamatan Kenongomulyo, Kabupaten Magetan ditemukan jasad KH Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussa’ada Rejosari, Madiun. Imam Shofwan dikubur hidup-hidup di salam sumur tersebut. Ketika dimasukkan ke dalam sumur, ulama NU ini masih sempat mengumandangkan adzan.

Dua putranya Kyai Zubeir dan Kyai Bawani juga menjadi korban dan dikubur hidup bersama-sama. Sebanyak 22 jenazah ditemukan di sumur ini. Dan masih banyak tokoh ulama lainnya yang menjadi korban keganasan PKI.

Kebiadaban FDR/PKI selama melakukan aksi makarnya tahun 1948 adalah rekaman peristiwa yang tidak akan terlupakan. Sumur-sumur tua ‘neraka’ yang tersebar di Magetan dan Madiun adalah saksinya.

Tak heran jika tindakan keji PKI berulang kembali pada 1 Oktober 1965 di mana para jenderal TNI AD diculik dan dibunuh secara sadis. Mayatnya kemudian ditemukan di dalam sumur ‘neraka’ Lubang Buaya di dekat Bandara Halim, Jakarta Timur.

Dengan ditumpasnya pemberontakan PKI di Madiun dan pemberontakan G30SPKI 1965, maka selamatlah bangsa Indonesia dari bahaya komunis. Kini, TNI dan ulama adalah pihak yang selalu di barisan terdepan melawan kebangkitan paham dan gerakan kiri tersebut.

SUMBER:[1] Sunyoto, Agus dkk. 1990. Lubang-Lubang Pembantaian: Pemberontakan FDR/PKI 1948 di Madiun. Grafiti Press.
[2] Sunyoto, Agus. 1996. Banser Berjihad Menumpas PKI. Lembaga Kajian dan Pengembangan, PW GP Ansor Jawa Timur & Pesulukan Thoriqoh Agung. Tulung Agung.
[3] Islamedia-Media Islam Online.
[4] Dihimpun dari berbagai sumber.

Kapan Gebuk PKI

Kapan Gebuk PKI?


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rudi Agung *)

Di hadapan mahasiswa kampus putih UMM, 13 Juni 2017, Jokowi membicarakan desas desus kebangkitan PKI: Partai Komunis Indonesia. Isu kebangkitan komunis itu pun mememantik tanya bekas wali kota Solo.

Dilansir Detik, ia berujar, "Pertanyaannya, di mana? Di mana? Karena jelas, di konstitusi kita jelas, ada TAP MPR bahwa komunisme dilarang di negara kita Indonesia," tegas Jokowi.

"Jadi, kalau bisa tunjukkan pada kita, tunjukkan pada saya, saya akan gebuk detik itu juga!" tambah Jokowi, 13/6/2017.

Janji Jokowi yang bakal menggebuk PKI tercatat di media dan benak anak-anak bangsa. Tapi, publik juga khawatir janjinya seperti janji-janji lain.

September meroket, ternyata melempem. Rupiah menguat di kisaran Rp 10 ribu, ternyata loyo. Bahkan, dalam rincian asumsi makro RAPBN 2018 nilai tukar rupiah hanya berani dipatok di kisaran Rp 13.300- 13.500 per dolar. Jauh dari angka Rp 10 ribu yang digaung-gaungkan.

Swasembada pangan, malah impor. Pertumbuhan ekonomi, tapi PHK dimana-mana. Kesejahteraan, justru kemiskinan meningkat. Pajak mencekik sukses mencipta bising jerit rakyat.

Penarikan subsidi, pajak mencekik, dana haji dan lainnya yang diklaim untuk infrastruktur, tetapi beberapa proyek usai groundbreaking malah mangkrak. Utang beranak pinak.

Sekarang rakyat pun mengganti istilah subsidi dengan menambah beban hidup rakyat. Sebab pada dasarnya kita tak pernah tahu, subsidi itu seperti apa, ada atau tidak pernah ada. Beban rakyat ditambah pula kemandulan hukum yang makin terasa.

Semisal Iwan Bopeng yang berani mengancam TNI dengan ancaman mengerikan laiknya komunis, tak jua tersua proses hukumnya. Pun pelbagai janji kampanye lain yang cenderung berkebalikan dengan kenyataan.

Lantas, apa betul janji gebuk komunis bakal dilakukan atau seperti sekadar janji-janji lainnya?

Komunis yang membantai para ulama, santri, masyarakat, dan singkatnya musuh besar bagi umat Muslim dan TNI, dinilai kian terasa kembali bangkit.

Bahkan, tahun 2010 digelar Kongres X Neo Komunis. Selepas 2014, begitu mudah kita menemui simbol-simbol palu arit di jalan raya.

Contohnya, orang yang menggunakan kaos palu arit, coretan dinding, sampai munculnya atribut PKI dalam karnaval menyambut HUT Ke-70 Kemerdekaan RI yang digelar Pemkab Pamekasan, Agustus 2015.

Di jejaring sosial media, grup-grup PKI pun mencuat bak jamur di musim penghujan. Tahun 2016, kian berani tampil ke permukaan wacana pencabutan TAP MPR yang melarang komunis di Indonesia.

Di tahun sama muncul pula desakan agar Jokowi meminta maaf pada PKI. Untung saja tak dilakukan.

Tapi di awal tahun 2017, Sastrawan terkemuka Taufik Ismail, memberi kabar getir bagi bangsa ini: tahun ketiga Jokowi mirip kebangkitan PKI.

Media pun ramai mengingatkan. Tapi, apakah pendukung PKI ada yang digebuk, seperti janji Jokowi?

Sebaliknya, justru ketika ada penulis buku yang menuding Jokowi berkelindan dengan lingkar komunis dan meminta test DNA, bukan disikapi tandingan buku lain.

Melainkan sang penulis itu langsung diganjar hukuman dengan vonis tiga tahun penjara. Buku Jokowi Undercover, itu pun dilarang beredar.

Di bulan Agustus 2017, Jokowi justru menyiapkan karpet merah bagi Sekjen Partai Komunis Vietnam. Selanjutnya, bisa ditebak: kegaduhan rutin di tiap September via isu PKI dibuat bising lagi.

Kali ini, malah terang-terangan bermunculan sosok yang terindikasi pro komunis. Sampai-sampai soal pemutaran film G30S/ PKI digaduhkan pula. Dari kualitas hingga rokok.

Tapi, namanya era digital. Boleh saja film itu dituding tak akurat lantaran DN Aidit, pentolan PKI dianggap tidak merokok.

Selang hitungan jam dari klaim anak Aidit jika ayahnya tak merokok, ramai-ramai publik mengabarkan foto DN Aidit merokok. Media Tempo sebelumnya juga mengabarkan: Sebelum dieksekusi, DN Aidit meminta rokok pada eksekutor.

Hanya hitungan sekejap, runtuhlah tudingan yang menyebut film G30S/ PKI tidak akurat. Runtuhlah klaim anak dari pentolan PKI, itu. Di titik ini, makin muaklah publik terhadap PKI. Bahkan, bagi generasi mileneal yang belum paham ideologi komunis.

Sayang, film fenomenal karya sutradara ternama yang dulu kemunculannya selalu dinanti saban tahun di TVRI, dihentikan sejak 1998. Persis di tahun reformasi.

Sejak itu pula, UUD 1945 diamandemen. Korupsi berjamaah tak malu-malu lagi menampakan wajahnya. Bahkan sempat muncul kasus pasal UU yang mau dikorupsi.

Sejak reformasi pula, makin marak kasus korupsi besar: BLBI, Century, rekening gendut polisi, reklamasi, sumber waras, dan seabreg kasus korupsi besar yang tak pernah tuntas.

Paska reformasi juga sila keempat Pancasila, dinafikan dengan perhelatan pilkada yang membelah anak-anak bangsa. Walau sempat ada drama politik KMP - KIH yang ingin mengembalikan pemilihan tak langsung, tapi SBY mengeluarkan Perppu.

Di tahun 2008 kurikulum PMP, PSPB dan sejarah bangsa dihapuskan. Dan kita paham, itu di era siapa. Selanjutnya anak-anak bangsa gagap sejarah. Termasuk sejarah kekejaman dan pola poli PKI.

Tak heran, kini upaya-upaya pemutar balikan fakta digencarkan. PKI berdalih menjadi korban. Tentu saja, bagi kaum milenial atau mereka yang tak memiliki keluarga atau leluhur yang dibantai keji oleh komunis bakal bisa saja percaya pemutar balikan fakta.

Melalui ragam kanal informasi, komunis seakan greget ingin mencuci otak bangsa ini bahwa: seolah mereka korban. Sampai-sampai film G30S/ PKI dinilai sebagai sampah. Bagaimana mungkin tak naif, dua kali melakukan upaya pemberontakan tapi mengaku-aku sebagai korban. Film sejarah G30S/ PKI pun dibusukan.

Tapi alih-alih mampu membuat film yang sama. Untuk menulis naskahnya saja, sang penuding film sampah belum tentu bisa. Dan akhirnya film yang dulu dinanti-nanti seisi bangsa, kini mengundang kontroversi ketika ingin diputar kembali.

Luar biasa bukan dampak reformasi? Seluar biasa kejahatan finansial masa lalu dan penuntasan masalah 97 yang sampai sekarang belum diselesaikan.

Rakyat menjadi sasaran pajak mencekik. Sampai e-money dipaksakan. Dikenai tarif top up pula. Uangnya ada, uangnya ada, mana buktinya?

Justru menurut data Kemenkeu (2017), utang pemerintah tercatat mencapai Rp 3.780 triliun. Indonesia pun dibayangi jatuh tempo utang yang super jumbo sebesar Rp 810 triliun.

Jatuh tempo utang tahun 2018 sebesar Rp 390 triliun dan tahun 2019 utang yang harus dibayar sekitar Rp 420 triliun.

Apa karena itu rakyat dibebani pajak dan ragam kebijakan memberatkan? Atau karena gencarnya audit finansial global dari justice international yang membuat kondisi makin kepepet?  Sampai isu-isu usang digaduhkan, pendukung PKI diberi panggung dan ruang.

Keturunan dan pendukung komunis pun bermunculan. Terang-terangan. Dengan demikian, kapan janji gebuk PKI direalisasikan? Sekadar janji lagi, tanpa bukti?

Tak bisa kah seperti Presiden Filiphina Duterte, yang senyap. Tapi tiba-tiba tentaranya langsung menewaskan sembilan orang komunis dalam baku tembak selama dua jam, beberapa hari lalu. Senyap seperti tuyul, tapi langsung memberi bukti. Tak berisik woro-woro ke sana kemari, namun hanya janji.

Kini, dengan janji gebuk PKI yang tanpa bukti, pemutarbalikan fakta PKI sebagai korban, bahkan tak meminta maaf pada sesisi bangsa: justru membuka lagi luka lama masyarakat Indonesia, khususnya bagi keluarga korban kebiadaban PKI.

Rekonsilasi sulit sekali rasanya jika tetap menebar dusta demi dusta. Memaksa mengelabui sejarah, bahkan memutar balikannya. Publik pun mendesak agar pemerintah lebih serius menangkal benih-benih komunis di perut Ibu Pertiwi.

Namun, semua pihak tetap harus melepaskan dendam demi mengembalikan peradaban tepo seliro dan jati diri bangsa yang lama menghilang.

Selamat Tahun Baru 1439 H. Semoga kita mampu hijrah dari ragam kedustaan dan perpecahan menuju  alam kejujuran serta kelembutan. Berpindah dari kebusukan siasat menuju peradaban yang mengundang langit mencurahkan rahmat.

"Ketika kejujuran tak lagi menjadi panglima kehidupan, bersiaplah menanti kehancuran," begitu pesan sesepuh pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, KH Ayyip Abdullah Abbas, mengingatkan seluruh elemen bangsa.

Damai selalu Indonesia Raya. Di tahun baru ini kita rajut lagi persatuan anak-anak bangsa yang makin porak poranda. Jangan mau lagi dipolarisasi, terlebih sekadar pilihan politik.

Shalaallahu alaa Muhammad.

Jika PKI Bangkit, Memangnya Kenapa?

REPUBLIKA.CO.ID, Pertanyaan yang tampak sederhana, sesederhana cara berpikir orang yang mengungkapkannya.
Untuk menjawab, mungkin kita perlu menelaah lagi sejarah dan fakta yang ada di lapangan.

Saya tidak akan bercerita tentang peristiwa bulan Oktober di tahun 1945, ketika kelompok pemuda PKI  membantai pejabat pemerintahan di Kota Tegal, menguliti  serta membunuh sang bupati. Tak cukup di situ, mereka menghinakan keluarganya. Kardinah, adik kandung  RA Kartini yang menikah dengan bupati Tegal periode sebelumnya, termasuk salah satu korban. Pakaian wanita sepuh itu dilucuti, kemudian diarak dengan mengenakan karung goni.

Betapa saat rakyat Indonesia tengah berjuang melawan penjajah, ketika arek-arek Suroboyo berebut merobek bendera merah putih biru di Hotel Yamato, lalu bertarung  menghadapi sekutu pada 10 November,  di belahan lain sebulan sebelumnya, sejumlah pejuang turut berdarah-darah  dalam pertempuran lima hari di Semarang, membredeli  tentara Jepang, PKI justru merusak tatanan bangsa di mana-mana. Menggerogoti dari dalam.

Anasir PKI bergerak merebut kekuasaan di Slawi, Serang, Pekalongan, Brebes, Tegal, Pemalang, Cirebon, dan berbagai wilayah lain.  Menghilangkan nyawa anak bangsa dan tokoh pejuang. Bupati Lebak  dihabisi, tokoh nasional Otto Iskandardinata diculik dan dieksekusi mati bahkan keberadaan jenazahnya menyisakan misteri. Sultan Langkat dibunuh serta hartanya dijarah. Bahkan Gubernur Suryo, tokoh sentral dari peristiwa di Surabaya juga dibunuh  PKI.

Ketika tokoh PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil menjadi Perdana Menteri di tahun 1948, arus bawah PKI merasa mempunyai kekuatan. Muso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia, beraliansi komunis. Dan lebih parah lagi dalam Perjanjian Renville, dengan mudah Amir Syarifuddin menyerahkan begitu banyak kekuasaan pada Belanda dan memasung wilayah Indonesia.

Keganasan PKI makin membabi buta.
Saya sebenarnya tidak hendak bercerita tentang peristiwa di Gontor. Ketika setiap pagi menjelang,   satu per satu kyai diabsen dan nama yang disebut  serta-merta disembelih. Atau kisah Haji Dimyati, aktivis Masyumi yang digorok lehernya sebelum dimasukkan ke sebuah sumur bersama korban pembantaian lainnya.

Juga tentang kesaksian Isra dari Surabaya yang ayahnya diseret ke sawah sembari dihajar beramai-ramai hingga jasadnya tidak berbentuk lagi; hancur, habis terbakar, dan dimakan anjing. Sang anak terpaksa memungut potongan tubuh ayahnya satu per satu dan dimasukkan kaleng.

Atau cerita Moch. Amir yang empat sahabatnya sesama aktivis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga ajal menjemput. Atau testimoni Suradi saat para kyai dimasukkan loji lalu dibakar. Yang berhasil keluar tak lantas bebas, melainkan dibacoki. Pun saya sejujurnya tidak ingin mengisahkan kesaksian Mughni yang melihat tokoh Islam dari Masyumi di Ponorogo diciduk dan dinaikkan truk. Telinga kakaknya dipotong, lalu dibuang di sumur tua.

Juga tentang Kapolres Ismiadi yang diseret dengan Jeep Wilis sejauh 3 km hingga wafat. Setelah tentara dibunuhi, gantian polisi dilibas.  Kemudian pejabat, ulama, serta para santri.

Pascagerakan komunis berhasil dihentikan di tahun 1948, pada 1965 PKI kembali beraksi.
Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara. Mereka difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan pemerintah berkuasa.  Tak hanya menerima siksaan setiap hari, Buya Hamka  memperoleh ancaman akan disetrum kemaluannya.

Deretan kisah mengiris hati di atas pernah saya baca, tapi tidak akan saya ceritakan sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Karena mungkin hanya dianggap serpihan dari peristiwa kecil.

Tapi, kini mari kita lihat apa yang terjadi jika komunisme berkuasa. Di Uni Soviet, sekitar 7 juta orang tewas dalam Revolusi Bolsevik dipimpin oleh Lenin. Di masa Stalin 20 juta orang  terbunuh untuk memuluskan program komunisme.

Salah satu cara komunisme bertahan adalah,  melestarikan tidak adanya perbedaan pendapat, dan jika berbeda sebaiknya dibunuh, berapa pun jumlah korban yang dibutuhkan. Di Kamboja, sekitar 2 juta orang atau sepertiga jumlah penduduk dibantai untuk mengukuhkan kekuasaan komunis. Di Cina jumlah korban meninggal dalam revolusi diduga mencapai 80 juta.

Jadi, jika PKI bangkit, memangnya kenapa? Pertanyaan seperti ini lebih baik dijawab dengan pertanyaan.
Jika PKI pernah mengkhianati kemerdekaan bangsa, apa jaminan mereka tidak akan mengulanginya?
Jika baru mempunyai sedikit kekuasaan saja sudah membantai begitu banyak orang, apa yang terjadi jika memegang kekuasaan besar?

Jika komunisme dilatih tidak bisa berbeda pendapat, lalu di mana letak kebebasan?
Dan yang terpenting dari semua itu, jangan berteriak korban. Mengutip Ahmad Mansur Suryanegara, PKI di Indonesia bukan korban, mereka pelaku. Atau istilah Agung Pribadi dalam buku Gara-Gara Indonesia, ini saatnya rekonsiliasi, kita bisa maafkan, tapi jangan lupakan sejarah pembantaian yang dilakukan PKI.

Kamis, 21 September 2017

Kebiadaban PKI Terhadap Ulama dan Ummat Islam

Kebiadaban PKI Terhadap Ulama dan Ummat Islam

Pada tanggal 31 Oktober 1948, pentolan Partai Komunias Indonesia (PKI) Muso di Eksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH.Lukman dan Nyoto pergi ke Pengasingan di Republik Rakyat China (RRC). Selanjutnya, akhir November 1948, seluruh Pimpinan PKI Muso berhasil di Bunuh atau di Tangkap, dan Seluruh Daerah yg semula di Kuasai PKI berhasil direbut, antara lain : Ponorogo, Magetan, Pacitan, Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan lainnya.
Pada tanggal 19 Desember 1948, agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta dan pada tahun 1949, PKI tetap Tidak Dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan Rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.
Sejarah berlanjut di awal Januari 1950, Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan Pembongkaran tujuh sumur neraka PKI dan mengidentifikasi para orban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 Kerangka Mayat yang 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 Kerangka Mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para Korban berasal dari berbagai kalangan ulama dan umara serta Tokoh Masyarakat.

PKI Tumbuh Lagi

Pada tahun 1950, PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah. Selanjutnya, pada tanggal 6 Agustus 1951, Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua Senjata Api yang ada.
Tahun 1951, Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI. Kemudian, pada tahun 1955, PKI ikut Pemilu Pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.
Dilanjutkan pada tanggal 8-11 September 1957, kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang–Sumatera Selatan Mengharamkan Ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua Mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.
Bahkan, pada tahun 1958, kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan Pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan musuh besar PKI. Disusul pada 15 Februari 1958, para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi Mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun Pemberontak kan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.
Selanjutnya, pada 11 Juli 1958, DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin. TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun Kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.
Pada tahun 1960, Soekarno meluncurkan Slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yg didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dgn demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

Masyumi Dibubarkan, PKI Lakukan Kudeta

Pada tanggal 17 Agustus 1960, atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang “PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)” dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam Pemberotakan PRRI, padahal hanya karena anti Nasakom. Kemudian di medio Tahun 1960,Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai dua Juta orang.
Pada bulan Maret 1962, PKI resmi masuk dalam Pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat, disusul bulan April 1962 digelar Kongres PKI.
Pada tahun 1963, PKI memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuk’y Angkatan Kelima yg terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.
Selanjutnya di bulan Juli 1963, atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM. Tahun 1963, atas Desakan dan Tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH.Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH.Isa Anshari, KH.Mukhtar Ghazali, KH.EZ.Muttaqien, KH.Soleh Iskandar, KH.Ghazali Sahlan dan KH.Dalari Umar.
Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yg didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA. Namun, pada 6 Januari 1965, atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang pembekuan Partai Murba dengan dalih telah Memfitnah PKI.
Pada 13 Januari 1965, dua Sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) Menyerang dan Menyiksa Peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan Pelajar Wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.
Pada awal tahun 1965, PKI dengan tiga Juta Anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).
Selanjutnya, 14 Mei 1965, tiga Sayap Organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut Perkebunan Negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dgn Menangkap dan Menyiksa serta Membunuh Pelda Soedjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.
Di bulan Juli 1965, PKI menggelar Pelatihan Militer untuk 2000 anggotanya di Pangkalan Udara Halim dgn dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara”. Dan pada 21 September 1965, atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang pembubaran PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.
Saat 30 September 1965 Pagi, Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta. Dilanjutkan tanggal 30 September 1965 Malam, terjadi Gerakan G30S/PKI atau disebut juga GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh).
PKI Menculik dan Membunuh enam jenderal senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayat’y ke dalam sumur di LUBANG BUAYA Halim, mereka adalah Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT.Haryono, Letjen S.Parman, Mayjen Panjaitan dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.
PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yg sedang bertugas menjaga Rumah Kediaman Wakil PM Dr.J.Leimena yg bersebelahan dgn Rumah Jenderal AH.Nasution. PKI juga menembak Putri Bungsu Jenderal AH.Nasution yg baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yang berusaha menjadi Perisai Ayahanda’y dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.
G30S/PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah Perwira ABRI (TNI/Polri) dari berbagai Angkatan, antara lain : Angkatan Darat : Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo dan Kolonel Infantri A. Latief. Angkatan Laut : Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi dan Komodor Laut Soenardi. Angkatan Udara : Men/Pangau Laksda Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo dan Mayor Udara Sujono. Kepolisian : Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.
Selanjutnya, 1 Oktober 1965, PKI di Yogyakarta jg Membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuk’y DEWAN REVOLUSI baru yg telah mengambil Alih Kekuasaan. Dan 2 Oktober 1965, Letjen TNI Soeharto mengambil alih Kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dari PKI.
Pada tanggal 6 Oktober 1965, Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha Melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan Terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap. Disusul 13 Oktober 1965, Ormas Anshar NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di Seluruh Jawa.
Pada 18 Oktober 1965, PKI menyamar sebagai Anshar Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshar Kecamatan Muncar untuk Pengajian. Saat Pemuda Anshar Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yg menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah Keracunan mereka di Bantai oleh PKI dan Jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa/Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshar yg dibantai, dan ad beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi Saksi Mata peristiwa. Peristiwa Tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.
Pada 19 Oktober 1965, Anshar NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa, 11 November 1965 : PNI dan PKI bentrok di Bali, selanjutnya pada 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta dihukum mati. Disusul bulan Desember 1965, Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

Supersemar

Pada tanggal 11 Maret 1966, terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yg memberi wewenang penuh kepada Letjen TNI Soeharto untuk mengambil langkah Pengamanan Negara RI. Disusul tanggal 12 Maret 1965, Soeharto melarang secara resmi PKI. Bulan April 1965 : Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.
Dilanjutkan 13 Februari 1966, Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidato’y di muka Front Nasional di Senayan mengatakan  ”Di Indonesia ini tdk ada partai yg Pengorbanan’y terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…”
Pada tanggal 5 Juli 1966 : Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS–RI Jenderal TNI AH.Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.
Di bulan Desember 1966, Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi Hukuman Mati pd tahun 1967. Tahun 1967, sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di Blitar Selatan bersama Kaum Tani PKI.
Pada bulan Maret 1968, aum Tani PKI di Blitar Selatan menyerang para Pemimpin dan Kader NU, sehingga 60 (enam puluh) Orang NU tewas dibunuh. Di pertengahan 1968, TNI menyerang Blitar Selatan dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI. Dari tahun 1968 s/d 1998 Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di Seluruh Indonesia dgn dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966.
Dari tahun 1998 s/d 2015 Pasca Reformasi 1998 Pimpinan dan Anggota PKI yg dibebaskan dari Penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan Fakta Sejarah dan memposisikan PKI sebagai pahawan pejuang Kemerdekaan RI.

Minggu, 17 September 2017

peluklah istrimu

pelukan ternyata memiliki khasiat yang luar biasa dalam hubungan pernikahan. Tidak hanya akan ada cinta yang tumbuh lebih kuat, koneksi fisik dan emosional Anda juga akan semakin kuat.  alasan mengapa suami harus memeluk istri setiap hari.

1. Meningkatkan Keromantisan
Bagi Anda yang memang kuran gmemiliki rasa romantis di dalam diri, Anda bisa melakukan ini. Cukup dengan memeluk istri saja saat akan berangkat kerja, sepulang kerja, atau sebelum tidur.
Ini akan membuat hubungan Anda semakin romantis dan diyakini dapat memecahkan segala macam hambatan dalam rumah tangga.

2. Membantu Komunikasi
Apakah Anda tahu bahwa pelukan ternyata memiliki bahasa komunikasi yang luar biasa? Para ahli  dapat mengklaim bahwa satu pelukan dapat membantu komunikasi non-verbal untuk menggambarkan rasa sayang, terharu, terima kasih, kekesalan, bahkan kemarahan.

3. Membantu Meringankan Beban Istri
Satu pelukan sehari akan memberi begitu banyak kehangatan bagi istri Anda. Jika ingin menunjukkan bahwa Anda peduli, maka peluklah dia. Karena terkadang istri lebih merasa bimbang dan lelah ketimbang suaminya. Satu pelukan saja dapat memenangkannya.

4. Menghilangkan Stres
Memeluk istri terbukti dapat menghilangkan stres. Pasalnya, pelukan kepada istri mampu mengurangi jumlah hormon strss kortisol yang diproduksi dalam tubuh.

5. Meningkatkan Suasana Hati
Ketika istri menerima pelukan Anda, hormon oksitosin akan dilepaskan sehingga membuat sang istri meresa hangat, tenang, dan juga bahagia.

6. Meredakan Emosi
Tak dipungkiri bahwa setiap kehidupan rumah tangga pasti ada cekcok. Satu pelukan saja bisa meluluhkan hati wanita.