Baca
Qur’an di makam
Pada masa Rasulullah Muhammad Saw,
yang senantiasa menjadi panutan dan telatan ummatnya, juga masa khulafaur Rasyidin-kholifah yang
empat, tidak pernah dilakukan membaca Al-Qur’an di makam atau di kuburan. Namun
Rasulullah mencontohkan untuk memberi salam bila berziarah atau melewatinya,
sabdanya “ Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum
mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu
dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul
kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian” -HR.
Muslim.
Ziarah kepada makan ke dua orang
tua atau pemuka agama yang alim dan ditokohkan, atau juga makam kaum muslimin
secara umum diperbolehkan, dengan tujuan
untuk mendoakan ahli kubur dan sebagai pelajaran –ibrah- bagi peziarah bahwa
tidak lama lagi ia juga akan menyusul menghuni kuburan sehingga dapat lebih
mendekatkan diri kepada Allah swt. Rasulullah pernah mencontohkan berziarah dan
berdoa, beliau saw bersalam dan berdoa di makam Baqi’-di dekat masjid Nabawi-Madinah, dan
berkali kali beliau saw melakukannya, demikian diriwayatkan dalam shahihain
Bukhari dan Muslim, dan beliau saw bersabda : “Dulu aku pernah melarang kalian
menziarahi kuburan, maka sekarang ziarahlah”. Shahih Muslim
Sebelum memasuki makam Baqi, ada
arahan bagi yang peziarah, tertulis dalam bahas Arab, Inggris dan Indonesia,
dituliskan untuk berziarah dan berdo’a
menghadap kiblat, dan tidak usah lama-lama. Jadi tidak dan bukan meminta berkah
atau lainnya*1, atau berlama-lama dengan membaca Al-Qur’an. Kalau
diperbolehkan, tentu saja makam Baqi
tidak akan pernah sepi sepanjang tahunnya, banyak orang yang baca Al Qur’an dan
sekalian tidur di sana, layaknya beberapa makam yang ditokohkan di Indonesia.
Bagi muslim tanah air lain lagi,
sudah menjadi kebiasaan membaca Al-Qur’an di kuburan yang pahalanya dihadiahkan
kepada mayit keluarganya, bahkan bukan
hanya itu ada yang sengaja menyewa orang untuk membaca Al-Qur’an di kuburan.
Padahal Al-Qur'an hanya bermanfaat
bagi orang yang hidup selama masih berada di dunia, ladang beramal. Allah SWT berfirman,
وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا
مَا سَعَى
Dan bahwasanya seorang manusia
tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”QS. 53: An Najm: 39
Adapun setelah mati, maka dia telah pindah dari fase beramal
menuju fase pembalasan amal. Pada waktu itu al-Qur'an tidak bermanfaat baginya,
karena ketika hidup dia meninggalkannya, padahal dia mampu mengambil manfaat
darinya. firman Allah SWT “ Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan
kitab yang memberi penerangan. Qs 36:69
"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (al-Qur'an). Barangsiapa berpaling dari al-Qur'an, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat." Qs: 20Thaha:99-101
"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (al-Qur'an). Barangsiapa berpaling dari al-Qur'an, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat." Qs: 20Thaha:99-101
Namun demikian, tetap ada
perbuatan keluarga yang bermanfaat bagi mayit, antara lain:
1. Do’a kaum muslimin bagi si mayit
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa:
"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah
beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian
dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya
Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".” QS. Al Hasyr: 10sabda rasulullah Muhammad Saw
“Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi”.”
2.
Siapa
saja yang melunasi utang si mayit
Rasulullah bersabda :“Aku lebih pantas bagi orang-orang beriman dari diri mereka sendiri. Barangsiapa yang mati, namun masih meninggalkan utang, maka aku lah yang akan melunasinya. Sedangkan barangsiapa yang mati dan meninggalkan harta, maka itu untuk ahli warisnya.
3. Menunaikan qodho’ puasa si mayit
“Barangsiapa
yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang
nanti akan mempuasakannya.
4. Menunaikan qodho’ nadzar baik berupa puasa
atau amalan lainnya
Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu
‘anhu pernah meminta nasehat pada Rasulullah Muhammad Saw,dia mengatakan ““Sesungguhnya
ibuku telah meninggalkan dunia namun dia memiliki nadzar (yang belum
ditunaikan).” Rasulullah lantas mengatakan,“Tunaikanlah nadzar ibumu.
5.
Amalan
anak yang sholih
Sabda
Rasulullah “Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah
hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.”
6. Bekas-bekas amalan sholih (seperti ilmu yang bermanfaat) dan
sedekah jariyah yang ditinggalkan oleh si mayit
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,“Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang diambil manfaatnya, [3] anak sholih yang mendo’akan orang tuanya.”
7. Sedekah atas nama si mayit
“Sesungguhnya Ibu dari Sa’ad bin Ubadah
radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada
di sampingnya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku
telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah
bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap
berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.Yang terakhir ini maksudnya adalah ibadah amaliah*2, bukan bacaan Al-Qur’an dengan mengundang banyak orang ke rumahnya ditujukan untuk mayit. karena setelah kematian, mayit tidak akan mendapatkan pahala melalui bacaan Al Qur’an yang dia dengar. Walaupun mayit mendengar suara sandal orang lain dan juga mendengar salam orang yang mengucapkan salam padanya dan mendengar suara selainnya. Namun amalan orang lain -seperti amalan membaca Al Qur’an, tidak akan berpengaruh padanya seperti dijelaskan di atas. Wallahu’alam, mr-aprl 2013.
------
*1. Kyai Afrokhi A Ghani, Buku
putih Kyai NU, pn Laa Tasyuki Press, h.68
*2. Baca juga “ muchroji m ahmad
- sodakotin jariatin dan sodakotin berkatin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar