Selasa, 02 September 2014

Syiah



Syiah

Di awal tahun 1980, ajaran Syi’ah mulai masuk ke Indonesia secara terang-terangan. Kemudian ditanggapi dengan diadakan sebuah seminar peringkat nasional 1 September 1997di Jakarta, yang dihadiri pejabat erajaan/pemerintah, Angkatan Tentara Indonesia, Polisi, Majelis Ulama Indonesia, Organisasi Islam, dan masyarakat umum. Diputuskan bahwa Syi’ah melakukan penyimpangan, penyelewengan dan perusakan Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah.

Syiah terus disebarkan dengan caranya yang dikenal dengan sikap taqiyahnya, sampai akhirnya tokoh Kang Jalal menjadi anggota DPR dan membuat pernyataan menggerahkan – baca tulisan si Udin Jalaludin sebelumnya.  
Sebelumnya dai ulama Syi’ah di mana-manat menyebarkan pahamnya secara halus dengan beberapa fase dan cara, yaitu:

Ø  Slogan cinta Ahlul Bait. Pada dasarnya perkara ini tiada masalah, bahkan Ahlu Sunah sendiri mengajarkan kecintaan kepada Ahlul Bayt.
Ø  Pengkafiran dan kebencian terhadap para sahabat ulung Rasulullah Saw. (Abu Bakar, Umar dan Utsman).
Ø  Slogan kepalsuan Qur’an Sunni dan kebohongan perawi-perawi hadits Sunni.
Ø  Pemberian beasiswa bagi pelajar Sunni ke Iran. Sepulangnya akan menjadi agen penyebaran di suatu negeri.
Ø  Mendatangkan pelajar Iran ke suatu Negara untuk belajar sambil menyebarkan paham syi’ah.
Ø  Propaganda perkawinan Mut’ah.
Ø  Membagikan buku-buku syi’ah secara percuma di tengah masyarakat.
Ø  Mendirikan pusat-pusat syi’ah.
Ø  Mengadakan seminar-seminar dan workshop.

Yang dapat disimpulkan beberapa strategi Syiah al:
*      Memuliakan para imam-imam Ahlul Bait dan tokoh-tokoh syi’ah, mempromosikan kecintaan kepada Ahlul Bait, Fatimah anak Nabi dan sebagai putri kesayangannya, disamping juga Husain cucu Nabi , hanya Hasan tidak ditonjolkan karena ia serahkan kepemimpinan secara percuma.

*      Melalui doktrin syubhat dan waswas sumber agama Sunni yaitu Al-Qur’an, di samping itu menyerang perawi-perawi hadits sunni, seperti imam Bukhari.
*      Pengkafiran, syi’ah menghina atau mencaci maki para sahabat khususnya kepada Abu Bakar dan Umar, dan menjuluki keduanya dengan sebutan (صنمى قريش) “Dua Berhala Quraisy”, sehingga dalam doa mereka “Wahai Allah, semoga shalawat tercurah kepada Muhammad dan kepada keluarga beliau, dan laknalah dua berhala Quraisy, Jibt dan Tahghut, dan kedua anak perempuan mereka.

Ketiga strategi di atas merupakan gerakan dakwah syi’ah klasik, setelah merasa kuat melanjutkan dakwahnya dengan :
·         Mempromosikan perkawinan Mut’ah di kalangan Sunni, khususnya di kampus-kampus universitas.

·         Mempererat hubungan diplomatik, politik dan kebudayaan. Seperti, pemberian bantuan kemanusiaan, pendirian pusat kajian-kajian Islam, penyediaan beasiswa, seminar bersama, pemberian buku-buku gratis, ekspor film.

Shalat Jenazah di Kuburan



Shalat Jenazah di Kuburan 

selesai pemakaman orang tua di Banjar, keluarga besar tidak langsung meninggalkannya, kecuali para tetangga dan pengantar lainnya, mereka semua sudah meninggalkan makam. Saat itulah ada tiga orang sholat zenajah di makam, dari keluarga tidak mengenalnya, mungkin itu teman bapak, atau murid bapak di pengajian, tapi entah dari mana. Yang satu menjadi imam, diikuti dua orang di belakangnya sebagai makmum. Dari keluarga menduka mungkin mereka tidak sempat atau  terlambat datang, sehingga tidak menyolatinya saat masih di rumah.

Fardu kifayah hukumnya menyolati jenazah-orang yang meninggal, artinya bila sudah ada yang menyolatinya maka sudah cukup, dan gugurlah bagi yang lainnya. Yang lain boleh tidak menyolatinya lagi, namun juga tidak ada larangan kalau ia sholat jenazah kembali. Lantas bagaimana bila ia terlambat datang saat di rumah atau di masjid untuk menyolatinya, bolehkan ia sholat jenazah di makam sedang mayit sudah dikubur.
Dalam kaitan ini terdapat riwayah yang menunjukkan kebolehan,

 عن أبي هريرة أنّ امرأة سوداء كانت تقم المسجد ففقدها رسول الله  فسأل عنها فقالوا : مات. قال : أفلا كنتم آذنتموني . قال : فكأنهم صغروا أمرها – أو أمره – فقال : دلوني على قبرها . فدلوه فصلى عليها

Dari abu hurairah  (beliau mengatakan) bahwa ada seorang wanita berkulit hitam yang biasa menyapu masjid. Tiba-tiba rasullallah tidak (lagi)menjumpainya, lantas beliau  menanyakan mereka (para sahabat) mereka menjawab : “dia telah mati.” Nabi bertanya: “mengapa kalian tidak memberitahu ku? (perawi berkata: “seakan-akan mereka menganggap kecil urusannya.”) tunjukkan kepadaku dimana kuburannya.” Mereka menunjukkannya. Lalu nabi melakukan shalat (jenazah) atasnya (diatas kuburan).” HR. Al-bukhari  dan muslim

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ الشَّيْبَانِيُّ قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ قَالَ أَخْبَرَنِي مَنْ مَرَّ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرٍ مَنْبُوذٍ فَأَمَّهُمْ وَصَلَّوْا خَلْفَهُ قُلْتُ مَنْ حَدَّثَكَ هَذَا يَا أَبَا عَمْرٍو قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
memimpin mereka shalat & mereka shalat di belakang Beliau. Aku bertanya: Wahai 'Amru, siapakah yg menceritakan ini kepadamu?. Dia menjawab: Ibnu 'Abbas Radhiyallahu'anhu. Tunjukkan kepadaku kuburannya! '. Maka Beliau Shallallahu'alaihiwasallam mendatangi kuburan orang itu kemudian shalat untuknya. Hr Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi.
hadits tersebut adalah hadits Abu Hurairah z, bahwasanya Nabi Muhammad Saw merasa kehilangan wanita yang biasa menyapu masjid beliau, maka beliaupun menanyakannya kepada para shahabat g. Merekapun menjawab bahwa dia telah meninggal. Kemudian Rasululah r berkata: “Tidakkah kalian mengabariku?” Mereka menjawab: “Dia meninggal di malam hari & kami tak ingin mengganggu engkau.” Rasulullah r berkata: “Tunjukkan kepadaku kuburannya.” Para shahabat pun menunjukkannya, kemudian Rasulullah r mendatangi kuburannya & menshalatinya (di atas kuburannya).

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَلَمَّا وَرَدْنَا الْبَقِيعَ إِذَا هُوَ بِقَبْرٍ جَدِيدٍ ، فَسَأَلَ عَنْهُ ، فَقَالُوا : فُلانَةٌ ، فَعَرَفَهَا ، فَقَالَ : أَلا آذَنْتُمُونِي ؟ قَالُوا : كُنْتَ قَائِلا صَائِمًا ، فَكَرِهْنَا أَنْ نُؤْذِنَكَ ، فَقَالَ : لا تَفْعَلُوا لأَعْرِفَنَّ مَا مَاتَ مِنْكُمْ مَيِّتٌ مَا كُنْتُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ إِلا دَعَوْتُمُونِي ، فَإِنَّ صَلاتِي عَلَيْهِ رَحْمَةٌ قَالَ : ثُمَّ أَتَى الْقَبْرَ ، فَصُفِفْنَا خَلْفَهُ ، فَكَبَّرَ عَلَيْهَا أَرْبَعًا (مسند أحمد بن حنبل الجزء 4 ص 388 )

Diriwayatkan dari Zaid Bin Tsabit Ra, beliau berkata kami pernah keluar bersama Nabi Saw. Ketika kami sampai di Baqi’, ternyata ada kuburan baru. Lalu beliau bertanya tentang kuburan itu. Sahabat bertanya, yang meninggal adalah seorang perempuan, dan ternyata beliau mengenalnya. Kemudian beliau bersabda Kenapa kalian tidak memberitahu aku tentang kematiannya?. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, anda (waktu itu) sedang tidur qailulah (tidur sebentar sebelum waktu dhuhur) dan berpuasa. Maka kami tidak ingin mengganggumu. Rasulullah menjawab: Jangan begitu, seorang tidak akan mati di antara kalian selama aku berada di tengah-tengah kalian kecuali kalian mengabarkannya kepadaku. Karena shalatku merupakan rahmat baginya. Lalu beliau mendatangi kuburan itu dan kami pun berbaris di belakang beliau. Kemudian beliau bertakbir empat kali (shalat jenazah) untuknya.

Dengan demikian maka sholat di kuburan saat zenajah sudah dimakamkan menjadi boleh, tidak dilarang. Yang tidak boleh adalah bila sholat yang dilakukannya setiap kali ia datang, tidak shalat diatas kuburan setiap kali melewatinya. Bila terlambat datang atau tidak tahu kabar kematian seseorang, yang seandainya dia tahu pasti akan ikut menyolati jenazahnya, atau orang yang tertinggal jenazah dan mayat terlanjur dikuburkan, maka dibolehkan baginya menyolati jenazah nya di kuburan.

Si Udin dari Jalaludin Rahmat



Si Udin dari Jalaludin Rahmat

Namanya Jalaluddin Rahmat, dikenal dengan sebutan kang Jalal, dalam tulisan ini ingin menganggilnya dengan sebutan si udin. Ia si Udin adalah salah satu tokoh Syiah Indonesia yang tinggal di Bandung. Sebelumnya ia dikenal dengan banyak menulis ketimbang ketokohannya di Syiah, namun akhirnya orang tahu kalau dia syiah tulen, ingat syiah ya ingat kang Jalal si Udin itu.

Baru-baru ini si Udin melontarkan dua pernyataan yang menyakitkan kaum muslimin yang ada di Indonesia dan juga di dunia. Pertama, Jalaludin menghina kalimat tauhid dengan menyebut tauhid sebagai ciri terorisme. Kedua, anggota DPR terpilih dari parta PDIP ini juga mengatakan bahwa kelompok Islam ahlul sunnah sebagai akar konflik yang terjadi di Indonesia.

Pernyataan si Udin di atas  kemudian menjadi bahan pembicaraan, dan mendapat banyak tanggapan, diantaranta adalah Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) KH. Athian Ali Muhammad Da’i, Lc, MA mengaku dirinya sangat bersyukur kepada Allah atas apa yang diucapkan oleh si Udin  itu. Pasalnya ucapan  itu semakin membuktikan kemunafikan dan kesesatan pemikirannya yang selama ini disembunyikan selama 28 tahun melalui sikap taqiyahnya. “Mudah-mudahan dengan pernyataan Jalal yang menyebut tauhid sebagai ciri terorisme ini, dapat menyadarkan masyarakat bahwa apa yang selama ini menjadi pemikiran si Udin itu adalah sebuah kesesatan” tanggapan ini disampaikan kepada Voa Islam melalui sambungan telepon pada Rabu, (06/08).

KH. Atian menilai ucapan Jalaludin bahwa tauhid adalah ciri terorisme, sama dengan menuduh Allah dan agama-Nya (Islam) sebagai agama yang mengajarkan ajaran tentang tindakan terorisme. Padahal Allah sama tidak mengajarkan ajaran teroris. “Kalau si Udin menyebut tauhid itu sebagai ciri terorisme, sama saja dia menuduh Allah dan agama-Nya (islam) mengajarkan ajaran terorisme, padahal itu jelas tidak benar”
Adapun terkait pernyataan si Udin bahwa ahlul sunna merupakan akar konflik di Indonesia, KH. Athian mengingatkan kepada masyarakat agar tidak terkecoh dan terpecah belah dengan istilah Islam ahlul sunnah. Menurutnya kita harus mengatakan bahwa agama Islam itu satu seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an Inna Dinna Ing Dallohil Islam. Sehingga, di luar Islam, adalah aliran sesat. Dan aliran sesat lah sebenarnya yang menjadi akar konflik selama ini. “Termasuk aliran sesat dan menyesatkan syi’ah yang dianut dan disebarkan oleh Jalaluddin sendiri di Indonesia ini”
KH. Athian juga memberi contoh bagaimana syi’ah yang menjadi penyebab utama konflik di beberapa negara dengan membunuh orang-orang yang tidak sejalan dengan syi’ah, termasuk kaum muslimin Sunni. “Di Irak rezim syi’ah sudah membunuh hampir 200 ribu orang, di Suriah, termasuk juga di Indonesia seperti di sampang” paparnya. Menurut KH. Athian wajar jika di Irak dan Suriah ada sebuah gerakan Islam yang menentang rezim syi’ah, karena memang rezim syi’ah lah yang telah melakukan sebuah kezhaliman. 

Tanggapan pernyataan si Udin, disampaikan juga oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsudin, di acara seminar bertajuk fenomena Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) di Gedung Auditorium Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu (9/8) siang, menyatakan bahwa komentar  si Udin yang menyatakan MUI pendukung ISIS adalah sesat dan menyesatkan. “Saya tidak tertarik menanggapi pernyataan seperti itu,” kata Din di hadapan wartawan.

Selain pernyataan tersebut di atas, si Udin juga membuat pernyataan pada Senin (4/8) lalu di hadapan wartawan  ia  menyatakan bahwa kelompok anti-Syiah adalah prospek utama pemicu konflik di Indonesia, dengan membantu ISIS untuk menghancurkan Syiah. Menurutnya, kelompok anti-Syiah atau Ahlussunnah yang tidak menyukai ajaran yang menghalalkan nikah mut’ah dan mengafirkan sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah MUI, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Pernyataan terakhir di atas, mengindikasikan bahwa setelah si Udin masuk DPR, ia merasa sudah punya kekuatan, karenanya sudah waktunya berani menunjuk siapa saja yang berebrangan dengannya. Semoga saja ini bukan berarti memulai menabuh genderang perang. Mr11agts’14

Wanita penghuni surga



Wanita penghuni surga

Kalau sebelumnya atau banyak diketemukan tulisan atau pernyataan yang  berkenaan dengan penghuni neraka banyak dihuni dari golongan perempuan, kali ini mengangkat perempuan penghuni surga. Para penghuni surga semakin hari semakin bertambah cantik dan tampan, dengan pakaian yang juga semakin indah. Demikian salah satu hadist Rasulullah Saw, menyebutkan. Dalam suatu riwayah disampaikan “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam ibadah. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya.

Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.

Dan kesabaran merupakan salah satu sebab seseorang masuk ke dalam surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Dan Wanita tersebut di atas menjawab, “Aku pilih bersabar.”
Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun harus menderita penyakit ayan agar bisa menjadi penghuni surga. Salah satu ciri wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan kesabaran yang baik. dengan kesabarannya dalam menghadapi cobaan, sang hamba mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya ia tidak dapat mencapainya dengan amalannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.” (HR. Imam Ahmad. 

Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar auratnya tidak tersingkap. Wanita itu tetap menderita ayan akan tetapi auratnya tidak tersingkap. di saat sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin kehormatannya sebagai muslimah tetap terjaga. 

Sabar menuntun wanita mencapai surga, yang lainnya karena penuh kasih sayang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” HR. An-Nasai. Wanita yang selalu siap  Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya. Wanita yang Tidak memberikan Kemaluan nya kecuali kepada suaminya. 

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” al-Mumtahanah: 12.

Selanjutnya wanita yang selalu menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu ‘anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya.” HR. ahmad

Wanita berikutnya adalah wanita yang selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. HR. Abu Dawud
 
Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. HR. Al-Bukhari  dan Muslim

Jadi banyak jalan masuk ke surga bagi wanita/istri,  dan jalan yang paling mudah adalah taat pada suami, ridhonya Alloh SWT, ridhonya suami, itu yang mengantarkannya ke surga.

Selasa, 26 Agustus 2014